Home / Opini / Opini: Ahok menjadi Korban Nyata ‘Saracen’, ‘Hukum Alam’ yang membalas

Opini: Ahok menjadi Korban Nyata ‘Saracen’, ‘Hukum Alam’ yang membalas

Ahok bersama warga DKI Jakarta.

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL POLITIK : Bisnis ujaran kebencian yang dikenal dengan istilah saracen cukup mengejutkan. Bisnis seperti ini sepertinya terhitung baru dan belum banyak dikenal.

Mungkin tidak banyak yang menduga bahwa bisnis seperti ini benar-benar nyata dan memiliki organisasi yang terstruktur meskipun banyaknya postingan yang berisi ujaran kebencian juga terlihat janggal.

Saya yakin tidak ada orang yang mau menyempatkan waktu untuk membuat meme dan postingan yang berisi ujaran kebencian terhadap salah satu pihak. Secara naluri, sepertinya jarang ada manusia yang hatinya rela melakukan aktivitas ini secara terus menerus. Belum termasuk biaya yang dikeluarkan untuk membeli kuota internet untuk memposting ujaran kebencian tersebut.

Akhirnya terkuak bahwa maraknya postingan yang berisi ujaran kebencian, sara, fitnah, dan provokasi memang sebuah bisnis yang menggiurkan. Tidak tanggung-tanggung, bisnis seperti ini menyentuh angka ratusan juta.

Pilkada DKI sepertinya menjadi embrio dari bisnis saracen. Ahok seperti menjadi target utama dari pelaku bisnis saracen. Dengan segala kehebatan dan prestasinya, Ahok nyaris mustahil bisa dikalahkan dalam kondisi normal.

Bisnis saracen kemungkinan menjadi pilihan lawan-lawan Ahok untuk menjungkalkan Ahok. Bukan mustahil ada oknum politik yang membayar orang-orang untuk membuat meme dan tulisan yang berisi ujaran kebencian kepada Ahok. Jika mau dicek, ribuan meme dan postingan yang berisi ujaran kebencian kepada Ahok bertebaran di media sosial, terlebih saat sedang panas-panasnya Pilkada DKI.

Dengan menggunakan saracen, lawan-lawan politik Ahok tidak terlalu capai berkampanye dan mengeluarkan biaya banyak untuk menjegal Ahok. Cukup bayar orang-orang beberapa ratus juta untuk membuat meme, postingan, yang tujuannya agar masyarakat membenci Ahok. Taktik ini pun terbilang sangat efektif karena mayoritas masyarakat Jakarta adalah pengguna media sosial. Biaya yang dikeluarkan juga terlihat sedikit jika dibandingkan dana kampanye yang terhitung hingga puluhan milyar.

Baca Juga :  Anies dan Obama bersua, ada apa?

Mereka tidak perlu melakukan money politic, memberikan sejumlah uang agar mau memilih calon yang diusungnya. Mereka tidak perlu terlalu intens berkampanye, membanggakan program dan kelebihan calon yang disusungnya dengan harapan mampu membuat masyarakat tertarik. Mereka cukup menyuruh orang untuk membuat postingan dan meme yang bertujuan agar masyarakat membenci Ahok.

< 1 2 3>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button