Home / Opini / Opini: Kemerdekaan dan Gemuruh yang Belum Selesai

Opini: Kemerdekaan dan Gemuruh yang Belum Selesai

Everd Scor Rider Daniel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh Everd Scor Rider Daniel *)

 

 

MORAL POLITIK : Ketika masanya tiba, kemerdekaan senantiasa dirayakan dengan gemuruh. Kemerdekaan sering dipanggungkan untuk dibicarakan.

Berbincang kebebasan, berarti sejenak kita merefleksikan gemuruh-gemuruh kemarin dan hari ini yang belum usai. Gemuruh tentang keresahan, rasa takut, gelisah, dan khawatir.

Kebebasan menjadi diskursus yang sering diobrolkan, tanpa mengenal akhir, diperbincangkan secara elegan sesuai tempatnya (di istana, Senayan, warkop, restoran, dan di bawah lampu angkringan). Gemuruh kebebasan itu sering terdengar, walau hanya pada masa perayaannya saja. Setelah perayaan 17an, kebebasan itu seperti lupa dibicarakan, atau lupa diperankan pada kenyataan. Situasi ini membuat gemuruh-gemuruh tadi menjadi akut. Karena kebebasan sekedar jadi pajangan. Sinisme kebebasan sulit dijawab tanpa rasa bebas, karena esensi kebebasan sebenarnya untuk melawan ketidakwajaran dan ketidakadilan. Dengan harapan, kebebasan menjadi mimbar pengharapan.

Kemerdekaan bagi suatu negara, berarti bebas (dari penjajahan, penundukan, pengekangan). Konteks kemerdekaan yang belum usai, melukiskan kenyataan bahwa merdeka itu sendiri justru seakan masih terikat, atau sebatas dipanggungkan, namun belum diperankan untuk melawan keterbelakangan. Apakah dengan perayaan kebebasan (merdeka itu) kita sudah lepas dari berbagai penjajahan-penjajahan baru, kebodohan, keterbelakangan?

Kata Soekarno, lebih mudah mengusir penjajah, daripada harus menghadapi pengalaman, “negara melawan rakyatnya sendiri”. Saya memahami alur pikiran Bung Karno, bahwa merebut hak dari tangan penjajah lebih mudah daripada mempertahankan negara yang dimana dijalankan pemerintah yang belum memikirkan kebebasan, dan mungkin belum mengetahui bagaimana harus menerjemahkan arti “bebas”.

Kebebasan tanpa rasa bebas adalah penjajahan. Pengertian “tanpa rasa bebas”, mengilustrasikan situasi manusia-manusia yang masih harus berjuang sendiri tanpa negara, mereka yang masih ditikam rasa lapar, dijajah oleh kemiskinan yang diciptakan, dijajah ekonomi buatan kapitalis, ditindas sebagai budak, dan menjadi sebagai objek penjajahan.

Baca Juga :  Usai Pidato Viktor Laiskodat, Voxpol: Jokowi Perlu Bertemu SBY

Tanpa kebebasan, manusia sekadar menjadi subjek pasif, eksistensinya menjadi teralienasi. Ketiadaan eksistensi memunculkan ketidakbebasan, karena esksistensi adalah kebebasan itu sendiri, menurut Sartre.

Memanggungkan Kebebasan dalam Realitas
Kebebasan menjadi istimewa, bukan karena hadiah, melainkan Ia harus harus direbut dengan keringat bahkan mengalirkan darah. Seperti dikutip dari Sinopsis yang ditulis Goenawan Muhamad pada buku Albert Camus berjudul “Krisis Kebebasan”, bahwa seperti ada keharusan suatu perjuangan sebelum manusia berjumpa dengan kebebasan. Kebebasan bagi Albert Camus bukanlah sebuah hadiah cuma-cuma, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan (fight for freedom).

< 1 2>

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button