Home / Opini / Opini: ‘Skill Disstributed’ dan Ekualisasi SDM Menuju Pembangunan Berkeadilan

Opini: ‘Skill Disstributed’ dan Ekualisasi SDM Menuju Pembangunan Berkeadilan

Everd Scor Rider Daniel.

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh Everd Scor Rider Daniel *)

 

 

MORAL POLITIK : Dimensi pembangunan tidak lepas dari sumber daya manusia (human resources). Manusia dinarasikan sebagai aktor, subjek dan modal (human capital).

Konteks pembangunan pada dasarnya bergantung pada pendekatan analisis berbasis sumberdaya intelektual.

Kesalahan persepsi dalam mengelola sumber daya akan menciptakan disorientasi. Sama halnya dinamika pembangunan menjadi terdistorsi akibat sudut pandang yang mengabaikan pengelolaan kapasitas manusia. Paradigma human development menjadi diskursus penting, sebagai jalan alternatif memperkuat akselerasi pembangunan di daerah.

Lambatnya pembangunan tidak lepas dari implikasi kesenjangan intelektual atau skilled distributted (distribusi keahlian). Ketimpangan terus melebar akibat tidak adanya ekualisasi (pemerataan) kapasitas manusia, dan pembangunan cenderung terpusat (Java centris). Pengaruhnya pada konteks akumulasi skilled distributted yang hanya berada di pusat kota.

Melihat keadaan hari ini, pembangunan dalam konteks Indonesia mestinya ditelusuri lewat sudut pandang periphery (pinggir/daerah). Mengapa? Karena problematika kesenjangan cenderung mengalami penguatan, dan terakumulasi di daerah.

Situasi demikian, menciptakan ketidakseimbangan standar kapasitas. Kontradiksi dan ruang-ruang ketergantungan akan terbuka dengan sendirinya, dampak kepada masyarakat adalah ketidakadilan sosial (social inequality).

Kebutuhan pembangunan di daerah masih sangat besar, terutama sarana-sarana penting yang bersinggungan langsung dengan kepentingan publik seperti infrastruktur, konektivitas, SDM, pendidikan, pelayanan kesehatan dan akses produksi. Upaya pembangunan di sektor publik akan tertangani manakala terbuka akses bagi mengalirnya pemerataan (ekualisasi) sumber daya terampil. Titik sentral masalah pembanguan di daerah masih terletak pada ketersediaan sumber daya manusia. Melihat konteks daerah, pembangunan semakin berada dalam gejolak, di satu sisi ingin mengejar ketertinggalan dan di sisi lain menghadapi kelangkaan sumber daya manusia.

Masalah pembangunan juga terisolir oleh karena ketidakadilan transfer kebutuhan (unfair allocation of resources). Ketergantungan akan terus melebar ketika kesiapan dan pengembangan SDM terampil tidak dipenuhi segera. Konsep pengembangan sumber daya manusia, khususnya daerah, dapat dianalisis melalui pendekatan collaborative model, yaitu menyerap tenaga-tenaga terampil (orang lokal/asli daerah) dan sebagiannya adalah membuka akses bagi pendatang dengan syarat kualifikasi (skills). Situasi ini menuntut desain kebijakan pembangunan yang lebih transformatifdan signifikan dalam menjalin kebutuhan realisasi pembangunan.

Baca Juga :  Jeny Liunome: Tes Keperawan Bunuh Karakter Siswi

< 1 2 3 4>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button