Home / Sastra / Cerpen: ‘Tu Sei Un Dono Del Cielo’

Cerpen: ‘Tu Sei Un Dono Del Cielo’

Ilustrasi. (foto: viva.co.id)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh Noldy Bebo *)

 

MORAL POLITIK : Memandang sesuatu di kejauhan. Begitu jauh sampai pandangan mata membatasi. Perlahan haluan dipalingkan. Kali ini, melihat kedalaman hati.

Begitu dalam sampai tampak kejelasaan dunia yang tercipta melalui bunyi jarum detik pada jam tua. Sebuah jam Belanda tua yang bunyinya terasa nyaring dalam ruangan kosong. Hanyalah salah satu lampu yang menerangi. Hening dan tentram adalah pilihan. Entah kenapa itu, tetapi hanya dalam pilihannya ia bahagia. Si tua dan buku tua pula.

Setiap pagi ia selalu pergi. Berjalan tanpa arah yang seakan mencari sesuatu. Apa yang dicari juga tak mudah untuk ditafsir. Bahkan terkadang ia harus pergi kekuburan. Depan batu nisan yang tampaknya baru. Rangkaian tulisan yang bersih tak seperti nisan yang lainya. Sekali lagi, dalam ketenangan ia seakan membayangkan kejadian yang terjadi dalam hidupnya. Meskipun hidupnya hanyalah bonus dari Yang Mahakuasa, ia tak memperdulihkan. Bahkan ketika hujan membasahinya, ia tetap tenang menatap nisan itu.

Seorang lelaki yang mengenakan pakaian hitam datang dari kejauhan. Dengan payung yang hitam pula, menghampiri sang kakek. Sedikit percakapan menghantar kakek nekat itu pulang. Aku yang telah menunggunya di rumah langsung menyiapkan secangkir kopi untuk dinikmatinya. Inilah minuman kesukaannya. Dan dalam takarannya aku selalu diingatkan, “Dua sendok kopi dan satu sendok gula”. Ini menjadi kopi yang khas untuk mulut seorang paru baya. Disempurnakan air panas yang baru mendidih.

Pria misterius itu pergi dengan perhatiannya kepada kakek. Entah apa cerita mereka tetapi ia tetap misterius bagiku. Ditambah kain yang menutupi ketelanjanganya berwarna hitam pekat disertai payung seperti salah seorang dari kawanan mafia Sisilia.

Baca Juga :  Nikmatnya Melahap "Bibir" Mungil

“Apa kakek baik-baik saja?”, hanyalah senyuman yang menjadi jawaban akan pertanyaan ku. “Ambilkan kopi dulu cucu!” Secepatnya langsung tersaji di depan mukanya kopi kesukaannya. Menghela napas sejenak kemudian mulai mencicipinya. “Pintarnya kamu ya, Boy.” Baru kali ini pujian dilontarkan untuk kopi yang kubuat. Meski harus seminggu antero dimarahi hanya karena segelas kopi yang harus seirama dengan irama lidahnya yang telah layu.

Tak seperti biasanya kali ini kakek mengajak untuk menukmati sore itu. Meski hujan mengguyur deras dan petir menyambar kami berdua duduk di depan teras dan seolah menikmati hanyatnya sunset sore. Ia membuka cerita dengan permasalahan revolusi di zamannya. Seperti tua tua yang lainnya hanyalah peristiwa di zamannya yang selalu dibanggakan. Tetapi kali itu asas pra-dugaku salah. Cerita ini bermula turunnya Soekarno sampai lengsernya pemerintah Soeharto. Dikisahkan saat bahwa semua itu karena kaum muda. Para kaum muda intelektual yang mewakili rakyat untuk mengarahkan tahtah negara pada tangan rakyat.

< 1 2 3>

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button