foto: v.j. boekan/moral-politik.com

MORAL-POLITIK.COM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama tiga tahun berjuang tanpa mengenal lelah untuk membangun Jembatan Pancasila Palmerah.

Jembatan itu akan disertai turbin listrik energi baru terbarukan di Selat Gonzalu, Kabupaten Flores Timur.

Ada banyak catatan suka duka yang mewarnai tapak-tapak kaki perjuangan itu, hingga ke pertemuan Gubernur NTT Frans Lebu Raya dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia Luhut Binsar Panjaitan, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia di Gedung BPPT I Lt.3 Jl. MH Thamrin no. 8, Jakarta 10340, Kamis (20/9/2017) pukul 14.10 WIB.

Ketika itu, Gubernur Frans selain melaporkan kemajuan (progress) pre-feasibiliti study rencana pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah, juga meminta persetujuan untuk Penunjukan Langsung (PL) pengerjaan proyek dimaksud kepada Tidal Bridge BV dari Belanda.

Menteri Luhut diminta dukung pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah

Publik NTT berhak mengetahui jalannya pertemuan dimaksud, dan langkah-langkah apa saja yang harus ditempuh oleh Gubernur Frans sehingga proyek yang dikategorikan sebagai pertama kalinya dalam sejarah peradaban dunia bisa masuk ke tahapan peletakan batu pertama (Ground Breaking/GB), yang direncanakan pada Rabu (20/12/2017) di Larantuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Jembatan Pancasila Palmerah di Flotim, pucuk dinanti ulam pun tiba

Berikut ini wawancara dengan Gubernur Frans melalui Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi NTT Andreas W. Koreh, usai pertemuan dengan Menteri Luhut di Jakarta, Kamis (20/9/2017) Pukul 17.15 WIB.

Menteri Luhut telah memberikan signal dukungannya terhadap pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah, tahapan apalagi yang harus dilampaui oleh Pemerintah Provinsi NTT sehingga bisa di lounching oleh Presiden Jokowi pada 20 Desember 2017 yang bertepatan dengan HUT NTT ke-60?

Usai kesepakatan dua kementerian yaitu ESDM dan respons menggembirakan dari Menteri Luhut bahwa harganya cukup baik yaitu 7,18 sen dollar per KWH, itu artinya secara verbal sudah ada kesepahaman. Tapi masih ada tahapan Administrasi Negara yang harus dilalui antara lain pre-feasibiliti study (P-FS), feasibiliti study (FS), pembuatan Detail Egenering Disign (DED), dan Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL).

Berarti tahapannya masih panjang. Adakah solusi lain sehingga rencana GB bisa terlaksana pada 20 Desember 2017 mendatang?

Pada saat dilakukan PFS, Tidal Bridge BV juga melakukan lebih dari sekedar PFS. Mereka telah melangkah jauh sampai ke pembuatan DED, malah AMDAL sudah mereka lakukan dan tak lama lagi telah selesai.

Apa saja yang dianalisa dalam dampak lingkungan atau AMDAL tersebut?

Tentu saja dampak sosial dari dibangunnya proyek itu, bagaimana sumber daya alam (SDA) setempat? Oleh karena itu perlu dilakukan secara paralel. PFS jalan dengan menggunakan data-data sekunder, tapi mereka mengambil data-data primer untuk melakukan FS, termasuk DED. Hal ini bukan lagi merupakan domain pemerintah, tetapi oleh investor sehingga tidak membutuhkan biaya lagi.

Bagaimana dengan bentuk jembatan?

Bentuknya sudah ada. Pihak Tidal Bridge BV telah melalukan sayembara dan telah ditetapkan pemenangnya. Ini kan baru bentuknya, laksana HP baru pada tingkat cashing-nya. Tapi kekuatannya, daya dukung, dimensi-dimensinya ada pada tataran DED yang juga menjadi kewajiban dari investor.

Menteri Luhut menyimak penjelasan Gubernur Frans melalui CEO Tidal Bridge BV

Apa saja yang akan dilakukan pada tahapan FS?

Mereka akan masuk pada harga jual yang telah disepakati yaitu 7,16 sen dolar per KWH untuk power 25 MW. Lalu investasinya akan bertolak dari sini. Kemudian akan dilihat pola kerja samanya berapa tahun. Nanti juga akan dibicarakan sejak kapan mereka mau membayar, atau Perusahaan Listrik Negara (PLN) mulai mengambil uangnya. Semua ini akan dituangkan dalam sebuah kesepakatan (MoU).

Ada dua kementerian yang menangani persoalan ini, apa saja langkah berikut yang harus ditempuh?

Tentu saja akan ada pembicaraan pada level pimpinan, semisal Menteri Keuangan, dan Menteri Ekonomi bicara secara rinci soal dana $ 175 Juta yang diinvestasikan itu mulai dibayar untuk berapa tahun, dan kapan waktu dimulainya.

Adakah prinsip-prinsip lain dari pihak pemberi pinjaman?

Ini yang berbeda dengan sistem pinjaman pada Bank yang lazim di pinjam uangnya oleh aparatur sipil negara (ASN) atau oleh masyarakat. Pada Investor pemberi pinjaman yaitu Bank Pembangunan Belanda, pembayaran cicilannya bukan pada tahun pertama proyek berjalan, tapi hitungan pembayaran cicilannya setelah proyek mulai beroperasi.

Jadi pinjaman yang akan diberikan oleh Bank Pembangunan Dunia di Belanda itu pembayaran cicilannya setelah mulai proyek jembatan dioperasionalkan, bukan mulai GB?

Ya, mulai proyek tersebut dioperasionalkan. Tapi akan diatur lebih lanjut dalam MoU, semisal 18 bulan, atau juga sesuai dengan prediksi mereka 24 bulan atau dua tahun pasca beroperasinya jembatan disertai turbin listrik energi baru terbarukan, baru dimulai pembayaran secara menyicil.

Apakah Gubernur perlu meminta waktu untuk bersua dengan Direktur Utama PLN di Jakarta?

Tentu Pak Gubernur perlu menyurati Pak Direktur Utama PLN untuk meminta waktunya agar ada ruang untuk memberikan penjelasan progress proyek kita itu. Paling tidak dalam pertemuan akan dibicarakan soal harga sudah ada, potensi apalagi, investor atau sumber pembiayaannya sudah siap. Tapi ada hal teknis yang akan dibicarakan seperti rentan waktu, cara pembayaran, dari kapan, 20 tahun waktu kontrak lalu dibicarakan lagi. Pokoknya macam-macam hal yang akan dibicarakan.

Baca Juga :  1 korban DBD, Pemkot Kupang mulai berbenah

Kapan waktu pertemuan tersebut?

Sekarang ini kami sedang menyiapkan surat permohonan kepada Pak Dirut PLN untuk meminta kesediaan dan waktunya. Kita berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama, semisal bulan September ini atau awal Oktober mendatang sudah bisa bersua dengan Pak Dirut PLN di Jakarta.

Sembari menanti pertemuan itu, apakah proses FS boleh terus berjalan?

Tentu harus terus berjalan sesuai dengan skenario Tidel Bridge BV. Tapi ingat mereka hanya minta sampai P-FS. Tapi oleh investor malah telah menyiapkannya hingga FS, DED, dan AMDAL.

Inilah tahapan lanjutan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah

Apakah dengan kesiapan investor tersebut Gubernur bisa bersurat minta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian untuk mengijinkan dilakukan Penujukan Langsung (PL)?

Kenapa tidak di lelang? Karena memang berbeda. Kalau energi terbarukan itu dari matahari, dari angin, dari panas bumi harus di lelang. Siapa pemenang lelang tentu ada kriterianya.

Lelangnya bernama Lelang Investasi?

Ya benar. Kenapa Lelang Investasi? Sebab mau di lihat investor yang mau menawarkan harga jual paling rendah, teknologi yang paling mumpuni, atau biota laut yang ada di sana. Tapi ini karena energi baru terbarukan, maka menurut Undang-Undang tentang Energi Baru Terbarukan, kalau energi itu berasal dari air dalam bentuk mikro hidron atau dalam bentuk air laut, maka pemerintah wajib membeli dengan cara menunjuk langsung.

Kenapa bisa terjadi seperti itu?

Karena berdasarkan Keppres Tahun 1970 tentang Penawaran dan Jasa, yang menguasai teknologi hanya pihak Tidal Bridge BV, tidak ada yang lain lagi.

Apa yang Anda harapkan dari publik Indonesia pada umumnya, dan NTT pada khususnya?

Kita benar-benar harus memahami bahwa yang menguasai teknologi air itu sesuatu yang specifik. Hampir di semua bendungan yang mempunyai arus besar mesti ada turbin. Itu bukan spesifik. Energi matahari itu juga bukan spesifik, angin juga begitu. Tetapi energi yang akan dihasilkan dari arus laut sebenarnya juga bukan hal yang baru, karena sudah pernah ada yang membuatnya, di Belanda. Tetapi dia menjadi spesifik karena dia menggantungkan turbin di jembatan. Teknologi ini belum pernah di bangun. Karena dia baru dan spesifik maka memenuhilah kriteria pengadaan barang dan jasa tadi. Tentu ini sebuah kebanggaan besar bagi NTT. Karena itu kami mengajak semua pihak untuk mendukungnya, minimal melalui doanya di setiap hari.

Itukah yang melatarbelakangi sehingga Pak Gubernur meminta PL?

Sudah tentu. Sebab Tidal Bridge BV punya teknologinya, mereka juga punya uangnya. Kita hanya siapkan lahan, kita juga yang punya kebutuhan. Kolaborasi antara yang punya lahan, punya kebutuhan, dan yang punya uang dan punya teknologi menjadi win-win solution, yang pada gilirannya akan dituangkan dalam sebuah kesepakatan.

Informasi yang kami peroleh bahwa harga solar untuk menggerakan listrik oleh PLN adalah 9 sen dolar, apakah dengan harga yang di tawarkan oleh Tidal Bridge BV sebesar 7,18 sen dolar merupakan salah satu keyakinan PLN akan menerima tawaran dari Pemprov NTT?

Memang informasi itu juga kami peroleh bahwa biaya operasional PLN untuk menggerakan listrik dengan kekuatan 1 KWH sebesar 9 sen dolar AS, berarti tawaran Tidal Bridge BV dengan menggunakan energi baru terbarukan dari arus laut, masih lebih murah hampir 2 sen dolar. Tentu saja dari aspek bisnis PLN untung, tapi kita belum bersua dengan PLN sehingga belum bisa memastikan apakah mereka tertarik dengan harga yang lebih murah atau bagaimana.

Anda sepakat atau tidak, energi yang bakal dihasilkan oleh arus laut di Selat Gonzalu bukan saja lebih murah tapi ramah lingkungan?

Tentu saja setuju. Sebab listrik yang bakal dihasilkan dari kekuatan arus laut itu sangat spesifik, bukan menggunakan solar atau batu bara sehingga rentan menimbulkan polusi karena mengeluarkan asap hitam yang bisa merambat kemana-mana. Kekuatan arus laut berputarnya di dasar laut, mana ada polusinya? Selain itu tak ada efek rumah kaca yang berakibat pengeluaran biaya untuk mengatasinya. Itu yang menyebabkan Jembatan Pancasila Palmerah sangat higt conik, potensi yang akan di jual juga, higt conik adalah yang pertama di dunia. Inilah pernyataan mereka berdasarkan pengetahuan dan observasi cukup mendalam.

Inilah tahapan lanjutan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah

Bagaimana Anda melihat energi yang dihasilkan dari air dan angin?

Menurut hasil pembelajaran, pengamatan, dan pengkajian bahwa energi yang dihasilkan dari air dan angin itu hal yang biasa atau lazim, begitupun dengan anergi arus laut. Tapi energi arus laut yang dihasilkan dari turbin yang digantung di jembatan itu tak lazim. Hal itu dari kekuatan arus laut yang hanya bakal terjadi di Selat Gonzalu Kabupaten Flores Timur, nanti.

Anda mengklaim demikian, mungkin sudah lupa bahwa Menko Maritim dan Gubernur NTT pernah melihat energi listrik yang digerakan arus laut di Belanda?

Tentu saja bukan, karena itu baru contoh yang mereka pasang di sebuah jembatan yang namanya susah untuk diingat. Saya juga sudah melihat langsung jembatan itu sepanjang 4 kilometer, pada satu segmen di tengah jembatan di pasang rurbin listrik. Artinya mereka sudah punya teknologi, tetapi mengapa mereka katakan di Larantuka adalah yang pertama, karena yang mereka pasang di sana hanyalah contoh, dan di sana juga hanya menghasilkan listrik kurang lebih dua hingga tiga MW, tetapi itu tidak dikomersilkan, hanya untuk konsumsi jembatan itu dan warga sekitarnya. Sedangkan di Larantuka nanti akan diambil dari arus laut, lalu turbinnya digantung di jembatan, dan akan dikomersilkan. Ini belum pernah ada di dunia. Akhirnya menjadi angat higt conik dan sangat spesifik.

Inilah tahapan lanjutan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah (2)

Anda sangat yakin bahwa energi dari arus laut lebih murah sementara faktanya belum pernah ada di negara manapun juga?

Baca Juga :  Melki Balle: Kengototan Pemkab Kupang pertahankan PDAM sama seperti melawan negara
CEO Tidal Bridge BV Mr. Erick (kiri) berjabatan tangan dengan Menteri Luhut (kanan).

Yakinlah. Sebab simpulan yang ditetapkan oleh pihak Tidak Bridge BV telah melalui suatu kajian yang panjang dan cermat sekali, melalui cara mengambil data murni dari BPTP, dan setelah mereka pasang alatnya di sana, mencermatinya selama satu bulan soal perilaku arus, baik tekanan dan kecepatannya, intervalnya, kapan dia pergi kapan datang, mereka menyimpulkan bahwa kecepatan arus laut bisa mencapai 5 meter per detik. Dengan kecepatan seperti ini, mereka bisa menekan efesiensi, sehingga harga yang ditawarkan sebesar 7,18 sen dolar per KWH.

Langkah Pemerintah Provinsi NTT dalam hal ini Dinas PUPR NTT sudah cukup jauh dan bisa disimpulkan telah menorehkan kemajuan yang cukup flamboyant. Pertanyaannya, apakah Anda telah mengajak Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPMD) NTT untuk duduk satu meja guna membicarakan kebijakan-kebijakan yang bakal di tempuh oleh pihak mereka menuju ke GB dan Launching mendatang? Terutama mengenai kontribusi yang akan di peroleh Pemprov NTT,  dan Kabupaten Flotim?

Itu kemarin yang sudah saya tanyakan kepada Menteri Luhut. Pak Luhut, Pemprov NTT dan Pemkab Flotim dapat apa? Katanya, sudahlah kita tidak usah dapat apa-apa. Kita dapat yang namanya Multiplier Effects (ME). Kenapa? Kita bisa memperolehnya dari kegiatan-kegiatan kepariwisataan, industri kecil, transportasi, dan hal-hal lainnya. Jadi tidak usah Pemda memperoleh bagian khusus.

Seingat saya, dulu Menteri Luhut pernah bilang Pemda juga mendapat bagian. Apakah beliau sudah lupa?

Ia benar, dulu beliau bilang Pemda akan kebagian. Tetapi kemarin beliau bilang kepada saya Pemda tidak usah mendapat bagian khusus. Ambil ME saja. Sudahlah sekarang ini kita tidak bisa kerja sembarangan lagi. Artinya kalau disepakati konsesi itu, berarti kita tidak bisa kerja sembarangan. Tapi artinya jangan kita pasang permintaan semacam itu yang mendampak pada investor terbebani. Malah kita dorong dia untuk keluarkan duitnya, kita dapat ME.

Jembatan Pancasila Palmerah, seberapa penting diperjuangkan Gubernur NTT?

Tapi seyogyanya kita sudah mendapat banyak hal, ‘kan?

Tentu saja. Kita kan dapat jembatan, dapat listrik sebesar 25 MW tentu akan ada banyak manfaatnya bagi masyarakat, minimal di 6 kabupaten di Flores dan Lembata. Kita bisa kembangkan kepariwisataan, home industry, home stay, hotel, kemungkinan-kemungkinan merubah air laut menjadi air tawar. Itu makanya kita sekarang ini harus kerja dulu, jangan pikir soal bagian kita untuk tingkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Banyak cara yang bisa kita tempuh untuk tingkatkan PAD dari ME jembatan kita itu.

Inilah tahapan lanjutan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah

Tapi apakah investor juga menutup pintunya untuk membagikan hasilnya kepada Pemda?

Oh tidak. Sebenarnya dari awal-awal dia tidak menutup pintunya sama sekali untuk memberikan bagian kepada Pemda. Masalahnya sekarang dia kan belum untung apa-apa, jadi dia juga tidak mau bicara terlalu mendalam soal itu. Selain itu, kita juga harus tahu diri, masak modalnya saja belum diperoleh kembali, belum juga untung, tapi kita sudah minta bagiannya. Itu makanya Pak Menteri Luhut katakan, sudahlah yang begitu-begitu jangan minta dululah. Nanti saja. Kalau dia sudah eksploitasi, dia sudah untung, daerah sudah melihat bahwa ada ME terhadap kemajuan daerahnya, baru kita bicarakan soal konsesi. Jangan belum apa-apa kita sudah menekan dia soal pembagian hasil usaha. Saya kira dia akan menilai kita yang tidak-tidak.

Saya setuju dengan jalan pikiran tersebut. Sebab kita bisa dapat pajaknya, ‘kan?

Inilah tahapan lanjutan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah (2)

Betul sekali. Kita bisa peroleh pajak dan retribusi parkir dari situ. Tapi apakah Perda kita sudah ada atau belum mengenai hal tersebut? Jadi kita tidak mendapatkan secara langsung dari transaksi penjualan listrik, yang menyebabkan investor bisa mengurungkan niatnya untuk berinvestasi.

Kalau melihat antusiasme Menteri Luhut dan keyakinan diri, Anda yakin bahwa proyek tersebut akan di GB oleh Presiden Joko Widodo pada 20 Desember 2017 mendatang?

Tentu saja aa optimism. Sebab Menteri Luhut berencana akan datang pada Oktober mendatang bersama dengan beberapa Menteri dan tim work dia. Sebab harga sudah ada, bentuk juga sudah ada. Uangnya juga sudah siap, bahkan kemarin dikatakan uang mereka yang sudah disiapkan sebesar $ 175 Juta. Semuanya dalam bentuk soft lound. Coba apalagi yang masih kurang?

Berapa kalau dikalikan dengan uang Indonesia?

Kalikan saja dengan 1 dolar Rp 13.500, sekitar Rp. 2, 36 triliun.

Inilah tahapan lanjutan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah (3)

Murah sekali untuk sebuah proyek jembatan sepanjang 800 meter disertai dengan turbin listrik energi baru terbarukan?

Ya memang murah sekali. Sebab dengan dana yang sangan minim kita bakal memperoleh ME yang sangat berarti buat rencana pembangunan kita ke depannya.

Baca Juga :  RSJ Naemata siap tampung politisi gagal Pilkada

Provinsi NTT adalah daerah maritim, banyak arus laut yang bisa dikelola menjadi arus listrik energi baru terbarukan. Persoalannya ada tidak investor selain Tidel Bridge BV yang berminat seperti di Selat Gonzalu?

Itu memang benar sekali, NTT adalah daerah maritim yang kaya akan potensi di bawah permukaan laut, di dalam laut, dan di atas laut laut yang bisa menghasilkan energi baru terbarukan berupa listrik tenaga arus laut.

Sesuatu yang baru tidak mudah diterima begitu saja, termasuk perjuangan awal membangun Jembatan Pancasila Palmerah disertai turbin listrik energi baru terbarukan. Bisakah diceritakan kembali perjuangan awalnya?

CEO Tidal Bridge BV Mr. Erick berjabatan tangan dengan Menteri Luhut di Jakarta.

Perjuangan kami pertama-tama tidaklah mudah, sebab sesuatu yang tak lazim tak bisa begitu saja diterima. Semisal kami bawa rancangan ini ke Kementerian ESDM, mereka bilang ini bukan kerja kami, masak kami urus jembatan? Kami pergi ke Kementerian PUPR, mereka bilang ini bukan kerja kami terkecuali jembatan. Oleh karena itu kami terus berkoordinasi bahkan agak ngotot supaya konsep itu bisa diterima, sehingga bisa sampai pada tahap sekarang ini, yang perjuangannya semenjak tahun 2014 mulai dari tahap wacana, tahun 2015 kita anggarkan uang untuk P-FS pada tahun 2016, perjuangan untuk mendapat dukungan dari APBN dan baru dieksekusi pada tahun 2017. Bbayangkan saja perjalanan selama tiga tahun menunjukkan bahwa tidak mudah. Sebab butuh argumentasi yang kuat untuk meyakinkan para pengambil kebijakan, para Menteri, dan bagaimana mempengaruhi investor agar mau menanamkan modalnya.

Apa yang bisa Anda katakana kepada investor dari Negara Belanda yang pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun?

Inilah tahapan lanjutan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah

Saya harus memberikan apresiasi tinggi kepada Tidak Bridge BV karena selama tiga tahun perjalanan perjuangan ini mereka pergi pulang Belanda-Jakarta-NTT, bahkan ke Flores Timur sudah tak terhitung banyaknya.

Anda masih ingat harga tiket per orang untuk Belanda-Jakarta?

Inilah tahapan lanjutan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah (2)

Tentu masih ingat, minimal untuk satu orang pergi-pulang membutuhkan biaya sebesar Rp. 40 juta. Nah, kalau untuk tiga orang berarti Rp. 120 juta. Belum lagi tiket Jakarta-Kupang pergi pulang minimal Rp. 3 juta, berarti untuk tiga orang Rp. 9 juta, dan Kupang-Larantuka minimal Rp. 1 juta untuk satu orang, tiga orang Rp. 3 juta. Belum lagi dana untuk akomodasi, konsumsi dan uang saku mereka. Jika dikalikan 20 berarti minimal mereka telah menghabiskan dana sekitar Rp. 5 miliar. Ini menunjukkan bahwa mereka sangat serius. Sebab mana ada pebisnis yang mau membuang-buang uangnya begitu saja?

Berarti mereka sangat meyakini bahwa investasi di Larantuka bakal mendapat titik impas dalam kurun waktu tidak terlalu lama, begitupun keuntungan yang cukup menjanjikan usai tahapan kembali pada titik impas tersebut, ‘kan?

Tentu saja kami harus memberikan apresiasi yang tinggi sekali. Artinya, lepas dari itu, dia tak mungkin tak tahu bahwa resiko gagal itu bisa saja terjadi. Tapi karena dia sangat serius maka kita juga harus mengapresiasinya dengan serius. Investor yang model begini tidak ada.

Anda setuju jika saya katakan bahwa mereka itu adalah investor “Gila”?

Ha ha ha ha. Memang tidak ada investor semacam ini yang mau mengeluarkan uangnya hingga Rp. 5 Miliar untuk meyakinkan bahwa mereka bisa menyulap arus laut menjadi energy listrik terbarukan berkekuatan hingga 300 MW, tapi tahap awal dimulai dengan 25 MW. Artinya dia sangat serius, bukan investor abal-abal yang berharap dari uang Bank.

Inilah tahapan lanjutan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah (3)

Saya belum yakin 100 persen bahwa mereka tak pakai dana dari Bank, sebab pengusaha di seluruh belahan dunia enggan berbisnis menggunakan uang pribadinya dengan sangat besar, cenderung memakai dana kredit Bank sehingga resikonya tidak terlalu besar jika muncul hal-hal yang tak diinginkannya. Bagiaman Anda melihat pandangan saya ini?

Memang mereka terbuka kepada saya dan Pak Gubernur bahwa dari dana $ 175 Juta, mereka punya uang sendiri sebesar $ 35 Juta, sisanya $ 140 Juta adalah pinjaman dari Bank. Kenapa Bank berani pinjamkan karena mereka percaya, makanya dia minta kepada Menteri Luhut, Bos besarnya konsersium Tidel Bridge BV yang merupakan anak perusahaan dari Struktom, yang mengerjakan konstruksi sampai ke Cina, Dubai, dan puluhan negara besar lainnya, untuk bisa bertemu Menteri Luhut pada waktu-waktu mendatang.

Melihat angin itu, mungkinkah bakal muncul investasi di bidang infratstruktur yang lain?

Tentu saja bisa muncul niat mereka untuk berinvestasi di bidang infratruktur lainnya. Semuanya sangat tergantung kepada kita untuk mengajak mereka bekerjasama.

Inilah tahapan lanjutan pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah (4)

Kenapa Bos Struktom belum pernah datang ke NTT?

Kemarin sewaktu di Jakarta, Pak Erick mengatakan bahwa Bos Struktom akan datang ke Larantuka pada bulan Oktober jika Menteri Luhut jadi mengunjungi Larantuka. Tentu ini kesempatan yang sangat flamboyan. Sebab bukan tak mungkin perhatian mereka terhadap NTT akan semakin flamboyan….

 

Penulis : V.J. Boekan