Home / Opini / Opini: Rumah Kita Sendiri

Opini: Rumah Kita Sendiri

Deodatus D. Parera. (foto: akun fb dosangtus parera)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh: Deodatus D Parera *)

 

 

MORAL POLITIK : Kehidupan membawaku menyaksikan banyak kali ketakberdayaan orang di tengah hiruk pikuk dunia terjadi.

Banyak mereka menerawang tanpa arah yang jelas. Sebagian memutuskan untuk menciptakan perjalanan tanpa sahabat.

Bagiku hidup begitu absurt, demikianlah pandang mereka dari kejauhan. Terlalu banyak tawaran yang tak berguna sering singgah mengganggu. Demikian pun setiap hari selalu saja ada kisah. Dinamikanya tentu saja berbeda.

Apa pun semuanya itu, kisah selalu menjadi baru di hadapan waktu. Kisah kemarin masa lalu, sekarang apa adanya, dan esok apa saja terjadi nanti. Adalah selembar kertas dapat diisi dengan pelbagai hal tentang dinamika tersebut. Walaupun begitu, yang khas dan uniknya ada dalam perbedaan.

Sesuatu yang berbeda dengan yang lain adalah unik. Itulah hukum Tuhan yang sering menjadi berkat bagi mereka yang percaya tapi neraka bagi mereka yang kehilangan semesta iman. Sesampai hari ini, kurang lebih berjuta-juta orang jumlahnya masih tabu terhadap perbedaan. Itu saja bahkan hanya itu saja, konflik berdarah dan atau korban nyawa dipertaruhkan.

Kita bisa mafhum tentang perbedaan yang tak dapat dipungkiri. Namun, miris sekali apabila gong perbedaan yang telah digaungkan mesti dibayar tuntas dengan korban. Bila benar, hal itu sama dengan batu karang hiasan. Rupanya saja begitu, esensinya gabus.

Obat penawar selalu basi di meja pertemuan yakni dialog, komunikasi dan gerak bersama. Dialog selalu dibuka dengan tawaran manis, tatapan manis dan apa saja namanya, manisnya minta ampun. Demikian pun dengan strategi komunikasi.

Komunikasi berjalan sesuai dengan harapan tapi kemudian berakhir berdasarkan keinginan segelintir orang. Pun metode gerak bersama. Disatukan lewat dialog menuju komunikasi yang intens gerak bersama pun disepakati.

Baca Juga :  Opini: Makanan bagi tubuh, jiwa dan roh (Sudut pandang Alkitab)

Masing-masing jawaban bak gayung bersambut. Awal-awalnya, peristiwa akbar selalu didukung oleh sejumlah tokoh bahkan pihak-pihak berkelas. Lama-kelamaan nyamuk maut membiuskan virus dendam sosial satu terhadap yang lain. Gerak bersama kemudian menjadi ritual semata, basa-basi dan seremonial belaka.

< 1 2>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button