Home / Opini / Opini: Tapak kilas Tari Sikka

Opini: Tapak kilas Tari Sikka

foto: andi pio/moral-politik.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Penulis: Andi Pio *)

 

 

 

MORAL POLITIK : Kelahiran, perkawinan dan kematian adalah tiga peristiwa penting dalam hidup manusia.

Para leluhur telah menandai lintasan hidup yang patut di kenang itu dalam berbagai bentuk seremoni atau upacara adat yang menggugah.

Upacara-upacara itu telah merupakan satu rangkaian dan untaian tradisi yang membudaya dan melekat turun temurun dalam kebiasaan hidup masyarakat Sikka.

Demikian pula berbagai upacara adat yang bersifat musiman, berhubung dengan alam dan pertanian, seperti membuka kebun, memohon hujan, menanam, memetik hasil, syukuran atas panen, menolak bala, dan lain-lain, juga merupakan bagian yang sudah tak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat setempat.

Seluruh rangkaian upacara adat tersebut, didukung dengan penyelenggaraan pesta yang dimeriahkan dengan penampilan seni tari, seni musik, seni suara, dan seni sastra, juga merupakan pola upacara dan keramaian yang sudah mencapai bentuknya yang baku.

Meskipun dari sudut pandang para ekonom, bahwa adanya upacara dan pesta adat itu dianggap sebagai pemborosan dana, waktu dan tenaga, karena biayanya sangat besar dan makan waktu berhari-hari, namun dalam kebiasaan yang tak pernah menjemukan inilah, ditemukan nilai-nilai kegotong-royongan, musyawarah dan kekeluargaan yang akrab, yang tak dapat dibeli dengan uang, sekaligus mengungkapkan karakteristik budaya masyarakat setempat.

Makanya, bukan saja satu karunia bakat dan ketangkasan, tapi lebih merupakan satu kekayaan seni budaya yang mengundang perhatian, karena dampaknya sangat besar bagi dunia wisata.

Kabupaten Sikka mencatat 28 jenis tari tradisional, terdiri dari tarian perang/kepahlawanan, tarian pesta/pergaulan, tarian yang berhubungan dengan alam dan karya tani, dan jenis tarian ketika mendirikan rumah, membuat perahu, menyembelih hewan kurban, dan lain sebagainya.Tari klasik seni drama “Soka Bobu”, adalah tarian ceritera perkawinan ala Portugis yang dibanggakan di Kampung Sikka. Diiringi nyanyian koor dalam bahasa Portugis, dengan tambur, suling dan giring giring, sendratari itu telah banyak menarik perhatian wisatawan.

Baca Juga :  "Ingat jasa penggagas Parade 1000 Kuda Sumba"

Sementara itu “Toja Bobu” di Kampung Paga yang dikenal sebagai “Bobo Uta”, juga tarian kepahlawanan peninggalan Portugis yang perlu dibenah dan dipentaskan lagi dalam hubungannya dengan melesatnya arus wisatawan sekarang ini.

< 1 2>

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button