Home / Sastra / Puisi: Penantian Ibu

Puisi: Penantian Ibu

Ilustrasi. (foto: araisyahfitria.wordpress.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh: Deodatus D Parera *)

 

 

Jarum yang hilang dari jam dinding
Terlepas dalam kegelapan dan kesunyian.
Ibu yang menenun harapan di seputar
Meja makan dan perapian sedang menunggu
Cinta kasmaran dari buah hati.

Datanglah suatu waktu, waktu yang manis
Untuk dipeluk dan dihangatkan dalam doa.
Selain karena setiap duka itu selalu fana
Keabadian membawanya kepada waktu
Dan rindu yang dibawa pulang dari petang kepada fajar.

Anak-anak terbungkus dalam kalbu
Menanti perjamuan bersama ayah yang jauh
Dari mata mereka tanpa pandangan.

Pelupuk mata dan risau berganti-ganti
Kemeja di ruang pas. Segalanya deras mengalir
Di setiap ukiran wajah dan telapak kaki
Yang tak berhenti berderap, tak terbekas.

 

Penfui, 2017.
*) Deodatus D. Parera lahir di Oepoli, 25 Juni 1990. Anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora ini pernah mengikuti Temu Sastrawan Indonesia Timur (Larantuka, 2013) dan Temu Sastrawan NTT 1 (Kupang, 2014). Tulisannya tergabung dalam Antologi Cerpen Wanita Sepotong Kepala, Penfui, 2012. Tulisan cerpen dan puisi-puisinya dapat dijumpai pada Majalah Sastra SANTARANG dan beberapa media lokal NTT.

Baca Juga :  Mas Anito Matos, Juri Timur Leste DA Asia 2 Pilihan Indonesia

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button