Home / Populer / Warisan penyebab 2 anak di Kediri gugat ibu kandungnya

Warisan penyebab 2 anak di Kediri gugat ibu kandungnya

Sumiati digugat anak gara-gara warisan. ©2017 Merdeka.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL POLITIK :Tega, kata yang tepat disematkan kepada dua anak dari Sumiati (70) warga Desa Ngablak, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri ini.

Bagaimana tidak, hanya gara-gara warisan Sumiati harus berhadapan dengan hukum di pengadilan.

Janda tua ini harus berhadapan dengan dua orang anaknya Emi Asih, anak sulung dan Lalan Suwanto, anak keempatnya di muka majelis Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, Selasa (19/9).

“Hari ini sidang ke 12 kali. Agenda sidang pemeriksaan saksi-saksi. Saksi yang dihadirkan adalah anak bungsu tergugat yaitu Enik Murtini. Majelis hakim memeriksa saksi berkaitan dengan duduk perkara gugatan perdata yang dilayangkan oleh penggugat,” kata Priyo, selaku kuasa hukum penggugat.

Dijelaskan oleh pengacara asal Kabupaten Jombang ini, kliennya Emi Asih dan Lalan Suwanto terpaksa memperkarakan ibu kandungnya sendiri karena tidak mendapatkan hak waris. Padahal almarhum ayahnya telah menulis surat wasiat sebelum meninggal dunia agar membagi harta waris berupa lahan dan bangunan rumah untuk kelima orang anaknya dan istrinya.

Peninggalan sang ayah telah beralih tangan kepada orang lain. Peralihan hak tersebut baru diketahui setelah Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri melakukan eksekusi. Sebab, lahan seluas 1.300 meter dan diatasnya berdiri sebuah rumah itu dijadikan jaminan hutang oleh tergugat. Tetapi, dalam perjalannya tergugat tidak sanggup melunasi.

Enik Murtini, anak bungsu tergugat turut serta dalam proses pengajuan utang tersebut. Oleh karena itu, ia dihadirkan dalam persidangan untuk dimintai keterangan. Seuasi diperiksa, Anik mengakui kesalahannya. Dia juga meminta maaf kepada kedua kakaknya.

“Dengan sepenuh hati kami mengakui kesalahan. Kami dan ibu, lalu kakak Pujiono meminta maaf. Kita benar-benar salah,” ucap Enik Murtini.

Dia tampak sangat bersedih. Dalam penyampaian maaf tersebut, matanya sembab, seolah hendak menangis tetapi malu.

Baca Juga :  Pemkot Kupang Hapus Penggunaan Jamkesda, ganti dengan KTP

Enik merasa paling bersalah dari persitiwa yang dialami ibu kandungnya. Sebab, dialah yang merasa memiliki andil besar mengajukan pinjaman dengan agunan sertifikat rumah peninggalan orang tuanya. Dia tidak menyangka, persoalannya menjadi serunyam ini, hingga menyakiti saudaranya sendiri.

< 1 2>

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button