Meriam milik Indonesia yang masih tersimpan di Timor Leste. (foto: ist/moral-politik.com)

MORAL-POLITIK.COM – Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) sebagai bekas salah satu provinsi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), banyak menyimpan catatan sejarah.

Semenjak kubu pro kemerdekaan Timor Timur menang dalam plebisit atau referendum yang diputuskan berlangsung pada 30 Agustus 1999 yang lalu, berangsur-angsur Timor Timur memersiapkan diri menjadi sebuah negara merdeka.

Namun apakah usai referendum tak ada konflik lagi? Sejarah mencatat bahwa usai referendum sempat terjadi konflik berdarah yang dilakukan kaum anti-kemerdekaan, di mana sekira 1.400 orang tewas.

Fakta itu menyulut perhatian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sehingga pada 20 September 1999 pasukan penjaga perdamaian INTERFET tiba dan mengawal Timor Timur.

Akhirnya, pada 20 Mei 2002 Timor Timur resmi menjadi negara merdeka setelah mendapat pengakuan internasional dan mengganti nama mereka menjadi Timor Leste.

Ekses lain dari sebuah daerah yang berintegrasi dengan Indonesia, ditemukan sejumlah gedung dan peralatan militer seperti meriam.

Sumber terpercaya media ini di Dili, Timor Leste melaporkan pada Kamis (5/10/2017) pukul 13.25 WITA bahwa ada cukup banyak senjata berat berlaras panjang buatan Jerman tahun rakitan 1705 dengan kekuatan jarak 20 sampai dengan 60 kilometer, yang dimiliki oleh TNI AD Armit/Arteleri pada tahun 1975 masih ada di RDTL.

Menurut dia, persenjataan berat tersebut berjumlah sekitar 20 dan kalau dilakukan perawatan masih bisa digunakan sebagaimana fungsinya.

“Persenjataan tersebut  digunakan oleh pasukan Teritory Tim Tim dari Yonif 744 yang bermarkas di Taibesi, Dili, Timor Leste. Pengambilalihan Timor Timur oleh pasukan PKF Australia menyebabkan 2 mesin di museumkan, 2 buah di simpan di Markas Besar Brimob TL eks Markas Brimob Indonesia,” tambahnya lebih rinci.

Ketika ditanya apakah meriam-meriam tersebut masih bisa digunakan? Menurut dia, meriam-meriam itu masih aktif tapi telah di museumkan oleh pihak RDTL.

Baca Juga :  Guam, siapa nyana tempat menetap Orang Indonesia Purba?

 

Penulis: V.J. Boekan