Home / Sejarah / Cerita Perjuangan Rakyat Belu melawan Penjajah Belanda

Cerita Perjuangan Rakyat Belu melawan Penjajah Belanda

Sosiodarama yang dibawakan dalam HUT TNI di Atambua.

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL POLITIK : Pada zaman dahulu kala, masyarakat Rai Belu hidup dalam kedamaian. Kearifan lokal dan tata krama masyarakat desa begitu dijunjung tinggi.

Hidup berkumpul dan bergotong royong dalam menyelesaikan suatu pekerjaan adalah sebuah kearifan yang sampah-sampahnya masih kita nikmati hingga saat ini.

Persahabatan dan persaudaraan tanpa mengenal suku, ras, golongan, dan agama menjadi ciri khas mereka. Karena itu, tempat ini mereka namakan Belu yang artinya Sahabat.

Namun, kedamaian itu tak lagi dirasakan oleh mereka ketika penjajah Belanda datang menguasai Nusantara. Masyarakat “Rai Belu” tak lagi hidup dalam kedamaian. Budaya gotong royong yang biasa mereka lakukan, dimanfaatkan oleh penjajah untuk kepentingan dan keuntungan segelintir orang. Persahabatan yang menjadi sifat dasarnya mereka, dibilang sebuah konspirasi untuk melawan para penjajah.

72 tahun yang silam, ketika ketenangan tak lagi menjadi milik orang-orang desa, ketika kebebasan tak lagi menjadi milik setiap orang, maka nurani pun mulai berontak! Perjuangan dari segelintir orang dalam melawan penjajah mendapat simpati dari masyarakat setempat. Perlawanan melawan penjajah pun tak lagi menjadi milik segelintir orang, tapi milik bersama. Mereka berjuang bukan untuk sebuah kekuasaan. Mereka berjuang untuk untuk kebebasan tanah airnya, Tanah Air Indonesia.

Dikisahkan, ada sekumpulan orang desa yang sedang merayakan hasil panenannya secara bersama-sama. Di tempat lain, ada sebagian keluarga yang sedang menyiapkan lahannya untuk ditanami kembali. Mereka semua hidup dalam keharmonisan yang penuh dengan kebebasan.

Tiba-tiba datang penjajah Belanda langsung menangkap dan menyandera semua orang desa. Mereka disiksa, diseret, layaknya binatang. Namun, beberapa orang berhasil melarikan diri.

Di tempat lain, sekumpulan pejuang sedang berlatih dengan keras. Terlihat salah seorang panglima bersenjata sedang berdiri mengawasi para pejuang yang sedang berlatih. Tiba-tiba datang beberapa orang desa melaporkan kejadian yang baru saja terjadi di desanya. Setelah mendengar laporan itu, Panglima pun segera memerintahkan para pejuang untuk pergi menyerang para penjajah yang sedang menyandera masyarakat desa.

Baca Juga :  CIA Berupaya Menggagalkan Konferensi Asia Afrika?

Bermodalkan senjata seadanya dan bambu runcing, para pejuang bersama panglima pergi menyerang penjajah. Mereka diam-diam menyelinap di antara semak belukar mendekati para penjajah sembari menunggu perintah sang panglima untuk menyerang.

< 1 2 3>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button