Home / Opini / Ketika Boti tanpa Raja Namah Benu…

Ketika Boti tanpa Raja Namah Benu…

Penulis (dua dari kanan) di depan Istana Kerajaan Boti, Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kamis (12/10/2017) Pukul 14.29 WITA. (foto: erny/moral-politik.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh V.J. Boekan *)

 

 

MORAL POLITIK : Hampir tak terhitung banyaknya saya menjadi Wisatawan Nusantara (Wisnu) ke tempat wisata paling perawan, sepanjang catatan peradaban di bumi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kedatangan saya karena ingin observasi untuk menulis novel berjudul Legenda Sihir Boti. Naskah novelnya sudah selesai lima tahun lalu, telah diterjemahkan oleh ahli bahasa ke dalam Bahasa Inggris. Sayangnya sampai sekarang saya belum ingin menawarkan untuk diterbitkan baik oleh Gramedia, ataupun oleh penerbit di luar negeri.

Kemarin, Kamis (12/10/2017) pukul 11.40 WITA, saya datang lagi ke Boti untuk update perkembangan terkini. Sehingga jika Novel Legenda Sihir Boti diterbitkan, tidak menimbulkan kejanggalan-kejanggalan, karena fakta kemarin tak ditemui lagi.

Boti, begitulah nama suku tertua di Pulau Timor ini, tepatnya berada di Desa Boti, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Kampung atau dusun kecil di TTS ini berbentuk kerajaan, akan tetapi mereka juga tunduk pada pemerintah Desa setempat, dan Bupati TTS. Tentu hal ini sangat berbeda dengan Inggris yang dipimpin oleh Ratu Elisabeth II, yang diberikan hak-hak istimewa sebagai berikut:

10 Aturan Hukum yang boleh dilanggar Ratu Elizabeth II, Nomor 6 mengerikan

Akses jalan menuju Boti bisa melalui Kecamatan Niki-Niki, bisa juga melalui Lintasan Jalur Selatan atau Kecamatan Kolbano. Saya sendiri memilih dua jalur ini, pergi melintasi jalur jalan Niki-Niki, sedangkan pulang melintasi jalur jalan Kecamatan Kolbano.

Kali ini saya kurang beruntung. Sebab Raja Boti Namah Benu sedang berada di Kota Soe untuk mengikuti Pekan Pameran Tenun Ikat TTS yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten TTS.

Antara Kafir dan Suku Boti

Menurut kepercayaan warga Boti, jika datang dan tak berhasil bertemu dengan Raja maka yang bersangkutan dianggap kurang beruntung atau sial. Hal ini bisa dimaklumi, karena Boti mengenal sistem sentralistik. Semua ritual adat, berkomunikasi dengan Uis Pah (Langit) dan Uis Neno (Bumi) harus dilakukan oleh sang Raja, masyarakat hanya menghadiri, diam, mencermati saja apa yang dilakukan sang Raja.

Baca Juga :  Kesetian Cinta 7 Istri Eyang Subur Bakal Hingga Jatuh Miskin Sekalipun

< 1 2 3 4 5>

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button