Home / Opini / Opini: Membebaskan Pendidikan yang “Tersandera”

Opini: Membebaskan Pendidikan yang “Tersandera”

Everd Scor Rider Daniel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh Everd Scor Rider Daniel *)

 

 

 

MORAL POLITIK : Pendidikan diakui sebagai komoditas penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan sebagai panggung pencarian, relevan dengan persoalan-persoalan praktis kehidupan.

Pendidikan seharusnya ditinggikan, membangun keintiman untuk manusia berjumpa dengan jawaban dan tentu kepastian berdasarkan apa yang dicari. Esensi sekolah juga ditinggikan dengan maksud sebagai basis pencerahan kolektif.

Belajar dan proses pencarian adalah bagian mendasar dari pendidikan itu sendiri. Pembelajaran menjadi suatu usaha dalam menemukan, menjumpai, apa yang tidak diketahui sebelumnya. Pendidikan sebenarnya ditujukan pada proses membangun kapasitas-kapasitas rasional yang inklusif untuk menjawab kebutuhan rasa lapar akan pengetahuan.

Hari ini, esensi di ranah pembelajaran, cenderung sulit memberi udara. Pendidikan disandera kebiasaan behaviourisme yang cenderung menciptakan subordinasi, penguasaan atas objek, tanpa melibatkan aktivitas berpikir yang real. Wacana behaviourisme perlahan-lahan menciptakan ketergantungan (dependent subject), meminggirkan siswa sebagai subjek, dan memposisikannya dalam objek. Slavin (2000), mengartikan behaviouristik sebagai pendekatan interaksi satu arah antara stimulus dan respon. Dalam ilustrasi pembelajaran, siswa lebih pada menunggu dan sebagai penerima.

Makna lain pendidikan sebenarnya adalah merawat kebebasan, dan sedikit demi sedikit siswa mengaktualisasikan kebebasan dengan mencari jalan masing-masing, menuju jawaban, dengan begitu dapat melepas kesan “pendidikan bukan pendudukan”. Sepinya ruang-ruang kebebasan membuka arah menuju pendidikan yang sunyi, tanpa ada pengenalan terhadap jalan lain bagi reproduksi dan rekonstruksi ingatan atau gagasan. Konstruksi ingatan secara sadar lebih diperankan institusi pendikan, sebagai bentuk pencarian-pencarian menuju kesadaran, kritik, dan pemahaman. Maksudnya, pendidikan dibebaskan dari penjajahan teks-teks behaviouristik, dan paradigma belajar yang terpenjara dalam ruangan.

Mempertahankan behaviourisme sama seperti mengizinkan, matinya nalar dan habitus pencarian kritis. Meminjam kalimat Freire, pendidikan sebenarnya ditempatkan sebagai jalan pembebasan bagi jiwa-jiwa yang lapar, dan yang masih ditikam oleh ketidaktahuan. Pendidikan sebagai jalur pencerahan, sebagimana apa yang diistilahkan Freire “consciousnes rising” (membangkitkan kesadaran). Ketika pendidikan absen dari etika moral, dan cenderung membelenggu manusia oleh kepentingan, maka masyarakat akan dibunuh oleh ketidaksadaran. Kesadaran dalam ruang-ruang kelas menjadi tinggal wacana.

Baca Juga :  2 wanita Jepang pamerkan pakaian dalam

Penyelidikan dalam pencarian harusnya tidak disandera, namun memberi ruang pelibatan (engagement). Konstruktivistik dalam pendidikan (contructivist of learning), adalah jalan merawat ingatan dan pemikiran. Masyarakat benar-benar diperlakukan sebagai subjek (student centered learning), dalam menginterpretasikan kompleksitas-kompleksitas di sekitarnya. Ada proses to learn, to be. Menurut pandangan konstruktivis, aktivitas pencarian melalui pembelajaran adalah proses menuju pengetahuan. Siswa lebih dominan pada aktivitas berpikir, menjawab ketidaktahuan, dengan begitu pengetahuan akan terbentuk dengan sendirinya.

< 1 2 3>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button