Home / Opini / Orang-Orang Kalah

Orang-Orang Kalah

Everd Scor Rider Daniel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh Everd Scor Rider Daniel *)

 

 

MORAL POLITIK : Melihat keadaan dalam kenyataan yang tak dipahami. Kita dikalahkan dari kenyataan. Karena yang bisa berkata jujur adalah kenyataan yang jadi sejarah: Tempat dari segala episode.

Tetralogi, Gadis Pantai, Pram dengan hati-hati berusaha mengerti, manusia-manusia yang dipisah oleh nasib. Kalimat di halaman 269 itu berdoa: “Aku ingin kembali ke rumah, Ayah, Tapi nasib memanggilku”. Lama pergi, hampir tidak mengenal halaman, pekarangan, dan sudut-sudut itu.

Aku menyebut pulang, tapi ia selalu menolaknya
Aku menyebut rumah, tapi ia bilang tak pernah ada rumah
Aku sebut kampung halaman, ia bilang kampung halaman tak pernah ada.

Sesuatu yang pandai sekalipun bisa tunduk, menuruti kehendak, seperti sepur yang berabad-abad mendengar batuk kereta.

Menolak adalah sulit. Karena nasib memanggil-manggil, untuk kita pergi bertemu sunyi. Karena orang-orang kalah, rela disiksa, disetubuhi jarak, untuk menghamba sesuatu. Bahwa rumus dari kenyataan itu sederhana, dibentuk mengikuti mesin orang-orang kota. Daripada, tidak beranjak dari ketertinggalan. Orang-orang kalah, merasa dikalahkan, dasawarsa meminggirkan mereka, dari terang lampu kota, gedung-gedung tegak, dan udara buatan Eropa.

Mereka “orang-orang kalah”. Berandai-andai dalam kebiasaan yang diulang, hari seperti kalimat sinonim.

Menertawakan “ yang kalah dan dikalahkan”. Pilihan tidak ada lain diantara kemungkinan yang lain, supaya terus menuruti apa yang dikatakan oleh keadaan.

Orang-orang kalah menderita karena bertubi-tubi tunduk, lama disuruh, dikurusi oleh mesin, perintah. Keganjilan manusia di abad teknologi “ketika orang-orang menciptakan mesin, kemudian, mesin kembali menyuruh manusia.

Benar, kata Herbert Marcuse, kalau tidak ada lain, selain penundukan, selama itu, mesin tidak pernah mempertemukan nilai.

Orang-orang kalah lebih memilih tunduk? tidak lebih istimewa, ketika mereka menulis. Karena, dari bagian itu, ada ruang sempit yang menjanjikan kebebasan. Setidaknya ada pilihan untuk bebas menentukan, mengesampingkan, merombak abjad, huruf, dan kemungkinan. Tidak aneh, ketika Soekarno mendekam cukup lama pada halaman Das Kapital, untuk dapat memahami manusia bebas, dan Hatta yang tak segan-segan di penjara dengan satu permintaan – tidak dipisahkan dengan buku.

Baca Juga :  Merasa ditipu hingga Rp. 4,9 Milyar, wanita ini surati Jokowi

“Kenyataannya, dipenjara dengan buku, justru saya merasa bebas”.

< 1 2>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button