Home / Sastra / Puisi: Mengenang Tarung

Puisi: Mengenang Tarung

Ilustrasi. (foto: lokaavontur.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh Deodatus D Parera *)

 

 

 

I
Di gerbang rumah dan bebatuan bersandar perjalanan kita serupa amsal yang kekal. Terdapat tanduk hewan dan kepalanya digenggamkan malam dan diremukkan tuannya. Adalah usuk di tiap-tiap ujung bumi disertai legion titipan senja dan purba, menari-nari menghias kaki, menyembur dari matanya air murni, sewaktu kita mengenal nama dan belajar tentang sudi yang tak pernah usai.

Generasi usur di matamu, tiap-tiap jemarimu yang merdu dan suara paraumu yang manis melingkar pada langkah kaki petang, entah kemana. Selepas hujan, berlalunya angin, gaung permatamu berderap ke angkasa, ke segala permulaan semesta, ke semesta semua arti.

Tak perlu bertukar jasad hanya untuk meniupkan seruling demi perdebatan atau membentangkan tarung demi perhiasan. Tak ada ruang kecuali kepalsuan yang segera akan diterkam sekam. Kaulah nafas yang dibacakan dengan merdu angin kepada lautan, atau jejak dari kenangan.

II
Debu sesekali mencium tubuhmu terbang kian kemari menerjemahkan pasolamu, rauh wajah nurani dari balik fajar, enggan berteriak weha, sambil mengisahkan kidung lara dan membentangkan kelewangmu usai menerawang.

Figura di kepalamu dan kepalan tangan menyembunyikan dendam kepada matahari laksana rambu-rambu dalam potret kelam. Sejak singkapnya di telaga, tak pernah mereka pulang sambil membawa buli-buli berisi kerinduan lelakimu. Kasmaran, pelukan, rengekan, manja-manjaan, perhatian dan permintaan. Mereka pergi meninggalkan istana dan bersama dengan berlalunya waktu, batu-batu semakin rendam.

Bebatuan hanyut ditelan gelombang, air mata yang tak pernah mengingat perhentian. Atap rumah dan mahkota ringkik kudamu telah ditenggelamkan aroma dapur ibu yang tak pulang-pulang nun ribaan tak bernama.
Tarung, kota-kota tanpa langit, rumah-rumah tanpa ruang tamu, sungai tanpa permukaan. Sedang apa kau, wahai sayang? Selamat jalan.

Baca Juga :  Kenapa Sih Risma atau Ridwan Kamil Harus Ditarik-tarik ke Jakarta?

 

 

*) Anggota Komunitas Sastra Dusun Flobamora-NTT

 

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button