Home / Sastra / Amitu

Amitu

Ilustrasi. (foto: timormedia.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh: Deodatus D Parera*)

 

MORAL-POLITIK.COM: Beberapa hari menjelang, Ramelau mendengungkan sesuatu. Kami yang kemarin, anak zaman yang masih labil, tak pernah tahu maksud bahasanya, kecuali nisbat tetua adat.

Bulan-bulan terjulur tak pernah selesai. Menunggu adalah riwayat kematian yang sudah tidak ingin dihindari. Apalagi malam dengan segala kebetulannya ataupun kepedihan. Rasanya, keinginan bisa menjadi alat bukti yang kuat selagi daun-daun yang gugur melecut dari batang pohon yang kelebat. Begitulah segalanya dimulai dari sini, Mei 1999.

Amitu, bocak TKK Maria Fatima bergegas pulang ke rumah. Sekolah segera diliburkan mengingat suasana kota semakin memanas. Pintu sekolah, rumah sakit, kantor desa dan kantor camat tertutup rapi tanpa penghuni. Politik negaranya meletus kembali. Gerilyawan prokemerdekaan menyusup kemana-mana. Masyarakat diatur pihak keamanan agar pergi menyembunyikan diri di dalam bukit batu, tiga kilometer jauhnya dari permukiman warga. Letaknya persis di balik gunung sana. Ia tidak mendapati siapa-siapa di rumah kecuali beberapa potong pakaian yang terserak di halaman. Batang bunga bougenvil bergoyang-goyang.

“Ama, Ina, Maria…”

Tak seorang pun menyambut suaranya. Beberapa petugas yang sedang menggotong seorang tua di atas tempat tidur memanggilnya untuk turut serta pergi ke seberang kampung. Matanya menerawang dan wajahnya pasi. Amitu untuk pertama kalinya melihat serapangan orang berlari memacu kaki menjauh pergi, namun tidak seorang pun di sana, entah Josintu, Ana dan saudari terutanya Maria. Ia bisa menangkap wajah mereka satu persatu namun tidak seorang pun dari antara mereka orang-orang yang adalah darah dagingnnya. Masing-masing kaki sedang lekas menyeberang. Bebatuan kerikil diterpa derap kaki-kaki yang lekas. Tak seorang pun berhenti. Kecuali memacu laju bersama waktu.

Baca Juga :  Puisi: Angin-anginan

Perbukitan tempat ungsian semakin dekat terlihat. Hati kecilnya berucap, semoga ia menemukan Ama, Ina dan Maria, saudarinya. Waktu semakin jauh ke sini, jua angin yang tipis mengiris di balik semak belukar dan bambu liar. Senja pun bertelikung menderap. Hawa mengalir bersama doa-doa kaum keluarga Amitu lainnya sedang ia sepi sendirian direbut malam dan dipisahkan jarak dari ayah, ibu dan Maria.

“Amitu, kita di sini saja. Jangan kemana-mana, Amitu,” kata Roja, teman sekolahnya.

< 1 2 3>

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button