MORAL POLITIK : Beras sejahtera (rastra) atau beras raskin, yang disitribusikan oleh Sub Divisi Bulog Maumere ditemukan penuh kutu, berwarna hitam, dan berbau tajam.

Rastra ini telah distribuskan di Kantor Desa Namangkewa, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka yang diperuntukan bagi 175 Kepala Keluarga (KK).

Berdasarkan pantuan moral-politik.com di aula Kantor Desa Namangkewa, Sabtu (11/11/17) Rstra ini tidak jadi dibagikan kepada masyarakat.

Masyarakat yang menyaksikan langsung, enggan menerima beras karena dalam kondisi rusak dan tidak layak dikonsumsi.

Kepala Desa Namangkewa, Nikolaus Nong Bale mengatakan dirinya baru mengetahui kalau sudah rusak dan berbau setelah hendak dibagikan kepada warga yang sudah berkumpul di kantor desa.

”Saya kecewa sekali. Masyarakat saya diberi beras busuk dan penuh kutu. Padahal masyarakat membayarnya, kami tidak terima beras itu secara gratis,” tandas  Nikolaus Nong Bale.

Bale mengungkapkan, untuk mendapatkan beras tersebut, setiap Kepala Keluarga dibebankan untuk membayar sebesar Rp 336 ribu dengan harga Rp.1.600 per kilogram. Setiap KK mendapatkan beras berjumlah 180 kilogram. Jadi secara keseluruhan beras yang akan diterima oleh masyarakatnya sebanyak 31,5 ton.

“175 KK yang menerima beras ini. Ini beras penuh dengan kutu, tidak layak untuk makan. Satu butir pun saya belum bagikan. Masyarakat tidak mau dikembalikan uangnya, mereka butuh beras,“ tegasnya.

Gorgonius Bapa

Hal yang sama juga ditambahkan Anggota DPRD Kabupaten Sikka Gorgonius Bapa yang mengaku jengkel ditemukan beras dengan kondisinya sangat jelek dan tidak layak dikonsumsi oleh masyarakatnya.

Baca Juga :  Menurunnya DAK Dinas PU NTT, Ini Pernyataan Veki Lerik...