Home / Populer / Devisit BPJS Kesehatan Rp 4,8 Triliun disuntik Pajak Rokok dan Cukai Tembakau…

Devisit BPJS Kesehatan Rp 4,8 Triliun disuntik Pajak Rokok dan Cukai Tembakau…

Foto: Dok. BPJS Kesehatan

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL POLITIK : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memproyeksikan tahun ini defisit akan terjadi sekitar Rp 4,8 triliun.

Ini karena BPJS Kesehatan masih mengalami missmatch antara pendapatan iuran dan pengeluaran klaim.

Solusi yang ditempuh adalah suntikan dana dari pemerintah.

“Jadi intervensi lewat suntikan dana yang bersumber dari pajak rokok dan bagi hasil cukai tembakau paling tepat,” ungkap Direktur Utama BPJS Kesehatan, Fachmi Idris kepada detikFinance, di Jakarta, akhir pekan lalu.

“Pasti disetujui, tidak mungkin tidak. Balik lagi, kami tegaskan ini defisit arus kas, bukan defisit lain,” jelasnya.

Fachmi menjelaskan isu defisit ini bukanlah isu baru, karena setiap tahunnya lembaga ini akan mengalami ketidakseimbangan neraca. Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang dikelola BPJS Kesehatan pada dasarnya selalu dihitung dengan pendekatan dan prinsip anggaran berimbang pada setiap tahun anggaran.

Kondisi defisit sudah diprediksi sejak awal dalam proses pengesahan rencana kerja anggaran tahunan (RKAT) lembaga yang lahir 1 Januari 2014 ini , sesuai regulasi yang terlibat adalah Kementerian Keuangan, Kementerian Kesehatan dan Dewan Jaminan Sosial Nasional.

“Semua pihak itu mendalami prediksi terjadinya defisit, jauh sebelum terjadi. Artinya dalam hal ini, setahun sebelum program berjalan, sudah diketahui bahwa program JKN KIS ini akan terjadi defisit,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, angka prediksi defisit tersebut sudah terlihat dalam proses penyusunan RKAT. Defisit tersebut kemudian diantisipasi bersama, termasuk pilihan dan komitmen Presiden Jokowi untuk mengatasi defisit tersebut melalui anggaran negara. Bukan dengan menaikkan iuran atau mengurangi manfaat program bagi masyarakat.

“Kami sudah membuat anggaran jauh hari sebelumnya, jadi kalau ada isu defisit itu bukan tiba-tiba, selalu hilang timbul. Sebenarnya perhitungan ini sudah diketahui sejak awal, karena perhitungan sudah diputuskan bersama oleh Kementerian keuangan dan Kementerian Kesehatan,” ujar Fachmi.

Baca Juga :  Kemenag & FKUB gelar pertandingan bola volley lintas agama

< 1 2>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button