MORAL POLITIK : Pembangunan Jembatan Petuk I di wilayah Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang mengganggu kenyamanan hidup beberapa warga.

Hal ini lebih dirasakan oleh warga yang mendiami kolong Jembatan Petuk.

Susana Hendrik, seorang warga yang mendiami area kolong Jembatan Petuk menuturkan, setelah Jembatan Petuk itu di bangun, dia tidak bisa lagi menanam sayur-sayuran.

“Dulu sebelum jembatan ini jadi, saya menanam sayur-sayuran di wilayah ini untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Setelah jembatan itu jadi, saya tidak bisa meneruskan usaha itu karena timbunan tanah,” katanya kepada moral-politik.com, di kediamannya, Rabu (8/11/2017).

Usaha yang dijalani Susana bertahun-tahun itupun terhenti berbarengan dengan berdirinya Jembatan Petuk.

Tak hanya itu. Akses masuk ke rumah mereka, kata Susana, akhirnya benar-benar tertutup karena timbunan tanah hasil penggalian tanah untuk pengeboran yang dilakukan oleh pihak kontraktor, dalam hal ini adalah Hutama Karya (HK).

“Akses masuk ke rumah kami juga tertutup. Kami sudah mengeluhkan persoalan ini berulang-ulang kali, tapi pihak HK tidak mau gubris. Selain itu, mereka (HK) tidak pernah mengundang kami untuk berdialog. Justru yang mereka undang adalah orang-orang yang tinggalnya jauh dari wilayah ini,” kata dia.

Akhirnya, dia bersama warga yang mendiami wilayah kolong jembatan secara swadaya membersihkan sekaligus meratakan tanah yang tertimbun untuk membuka jalan masuk ke rumah mereka.

“Kami kerja sendiri. Pihak HK tidak membantu. Mungkin mereka takut kehabisan uang. Selain membuka akses jalan, perataan tanah yang kami lakukan itu juga supaya ketika hujan nanti, tidak terjadi longsor. Jika dibiarkan, kami akan mengalami longsor,” jelas Susana.

Baca Juga :  Tragedi Sarai dorong Pemkot Kupang tingkatkan pengawasan