MORAL POLITIK : Apa yang dilakukan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto yang ‘menghilang’, dinilai sebagai tindakan kekanak-kanakan.

Bagi Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kupang Leo Liwun Atau Kiwan, menghilangnya Novanto sewaktu didatangi pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di rumahnya, Jalan Wijaya XIII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (15/11/2017) pukul 21.40 WIB, adalah sebuah tindakan keliru sekaligus kekanak-kanakan.

“Pada prinsipnya, menghilangnya Novanto ini ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa sifatnya sangat kekanak-kanakan. Harusnya Novanto bisa menghadiri persidangan dan memberikan penjelasan, apakah benar dia memakan uang rakyat atau tidak,” jelas Leo sewaktu dihubungi moral-politik.com, di Kota Kupang, Kamis (16/11/2016).

Sebagai ketua DPR RI, menurut Leo, apa yang dilakukan Novanto telah menyalahi kapasitasnya sebagai pimpinan legislatif.

Selain itu, tindakan Novanto juga menjadi cermin akan sikap elit politik yang main-main dengan hukum.

“Novanto itu memperlihatkan sifat elit politik yang main-main terhadap hukum yang berlaku di negara ini. Kejadian ini juga menjadi sebuah pembenaran, kalau hukum di negara ini tajam ke bawah tumpul ke atas,” jelasnya.

Sebagai ketua GMNI Cabang Kupang, Leo memberikan apresiasi kepada KPK yang mencoba menegakkan hukum di negara ini.

“Saya memberikan apresiasi kepada KPK yang telah mengambil langkah bijak dan benar. Semoga semua lembaga penegak hukum lainnya bisa lebih responsif dalam melihat situasi ini,” pungkas dia.

 

 

 
Penulis : ambuga
Editor   : erny

Baca Juga :  Andre Koreh Ungkap 220 Ribu Rumah di Provinsi NTT Tak Layak Huni