Home / News NTT / Mimpi Iwan Puken sambut Jembatan Pancasila Palmerah…

Mimpi Iwan Puken sambut Jembatan Pancasila Palmerah…

Ridwan Parmin alias Iwan Puken. (foto: ambuga/moral-politik.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM: Pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah kini memasuki tahap peletakkan batu pertama.

Jembatan ini, pada akhirnya tidak hanya mempermudah akses lalu lintas, namun bisa juga berimbas pada event-event seni yang akan digelar ke depan. Dengan adanya jembatan Pancasila Palmerah, banyak pegiat seni yang berdomisili di Kabupaten Flores Timur terbantu. Salah satunya adalah Iwan Puken.

Sebagai seorang pedagang sekaligus seniman foto, Ridwan Parmin alias Iwan Puken tentu saja memiliki banyak harapan dan cita-cita yang belum terealisasi. Bersama teman-teman sekomunitas (Komunitas Waimatan), mereka telah beberapa kali menggelar kegiatan seni, dan kepuasan yang mereka peroleh belum maksimal. Dengan adanya jembatan Pancasila Palmerah, sangat besar terbuka kemungkinan bagi Iwan dan teman-temannya untuk menggelar event seni dengan hasil yang lebih maksimal.

Pria kelahiran Larantuka, 26 Desember 1976 itu menuturkan, jika jembatan Pancasila Palmerah itu telah di bangun, dia berencana menggelar event-event seni berskala besar, lebih besar dari yang selama ini dia dan teman-temannya pernah gelar.

“Dulu, sebelum jembatan Pancasila Palmerah ini direncanakan untuk di bangun, kami telah lakukan berbagai event seni. Hasilnya cukup memuaskan. Tapi tentu saja dengan mengeluarkan banyak biaya, untuk mendatangkan masa misalnya,” katanya kepada moral-politik.com, Jumat (18/11/2017) Pukul 13.40 WITA.

Tahun 2013, tutur pria empat anak itu, di gelar sebuah acara yaitu Temu Sastrawan Se-Indonesia Timur di kota Larantuka. Hadir juga waktu itu Radar Pancadahana. Siapa saja yang mengenal dunia sastra Indonesia kontemporer, pastilah mengenal sosok sastrawan yang bernama Radar Pancadahana ini.

Tapi, untuk mendatangkan para pegiat seni ataupun penulis lain, terkhusus dari Pulau Adonara, membutuhkan banyak biaya karena hanya melalui jalur laut.

Baca Juga :  Wabub Ose Luan: Belu harus lebih baik dari Timor Leste

“Biaya untuk transportasi laut sangat besar. Tahun 2013, dengan adanya event temu sastrawan itu, biaya yang dikeluarkan untuk datangkan penulis ataupun pegiat seni dari Pulau Adonara lebih susah,” ulasnya.

Sekarang, demikian menurut Iwan, dengan berdirinya Jembatan Pancasila Palmerah, ada kemudahan yang didapatkan, dan meminimalisir pengeluaran untuk transportasi.

< 1 2>

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button