MORAL POLITIK : Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua, akan menindaklanjuti kasus jurnalis cilik yang dihukum karena hasil liputannya mengenai upacara bendera di sekolahnya.

Sekretaris Daerah Jayawijaya, Yohanis Walilo, menyayangkan tindakan kepala sekolah SMP YPPK St. Thomas Wamena yang menghukum siswi bernama Enjelita Meho dengan berlutut.

Menurutnya, siswi seperti Enjelita seharusnya diberikan bimbingan untuk perbaikan dan mendorong siswa untuk berkarya, bukannya dihukum.

“Kalau anak itu mengembangkan bakat untuk cita-citanya menjadi jurnalis, dan kalau betul ada kesalahan, itu harusnya menjadi tugas guru untuk memberikan bimbingan, tidak harus langsung diberikan hukuman. Saya akan panggil dulu dinas pendidikan perihal ini,” kata Yohanis kepada wartawan Yuliana Lantipo di Papua, yang melaporkan untuk BBC Indonesia.

Kasus ini berawal ketika Enjelita, yang akrab disapa Lita, menulis mengenai kegiatan upacara bendera di sekolahnya pada Senin, 23 Oktober 2017.

Lita, yang juga anggota komunitas Jurnalis Warga (JW) Noken Jayawijaya, kemudian mengirimkan tulisannya ke RRI Wamena. Oleh RRI Wamena naskah itu disiarkan pada 25 Oktober 2017, di jalur Lintas Berita Pegunungan Tengah.

Namun, pada Jumat (27/10), seluruh murid SMP YPPK St. Thomas Wamena dikumpulkan di lapangan sekolah. Menurut Lita, Kepala Sekolah, Theresia Madaun, bertanya menggunakan pengeras suara.

“Ibu guru bilang siapa yang jurnalis noken di sini? Terus saya angkat tangan. Ibu guru suruh saya maju. Saya maju, terus ibu guru suruh saya berlutut setengah jam, dari jam 07.00 sampai 07.30. Ibu guru bilang, kalau kerja jangan sekolah,” tutur Lita.

AFP/GettyImages Parade sejumlah siswa sebuah sekolah di Bali saat merayakan HUT Kemerdekaan RI, pada 2016 lalu.EnjelitaMeho, seorang siswidiWamena mengaku dihukum setelah meliput upacara bendera di sekolahnya.

Baca Juga :  Wiranto Tulis Pesan soal Sikapnya Kepada Presiden Jokowi dan Partai Hanura

Saat dihukum, Lita mengaku mendapat ejekan dari sesama teman sekolah.

“Teman-teman juga jadi ikut ejek saya, mereka bilang karena mati dapat uang jadi kirim berita ke RRI,” katanya.