MORAL-POLITIK.COM: Situasi politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2018 menyiratkan terjadinya turbulensi politik.

Situasi sekarang, di mana terjadi gonta ganti pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur, juga ketidakpastian penetapan kandidat dari berbagai partai, membuat situasi politik di NTT semakin buram untuk di baca publik.

Hal ini diakui oleh politisi kawakan Frans Kape yang telah lama berkiprah di Partai Politik (Parpol), mulai dari Partai Golkar hingga ke Partai Demokrat.

“Situasi ini menyebabkan turbulensi atau guncangan politik di NTT,” kata Frans Kape kepada moral-politik.com di Kota Kupang, Sabtu (25/11/2017) Pukul 12.30 WITA.

Situasi turbulensi politik ini, menurut mantan Ketua PMKRI Cabang Kupang ini adalah fenomena yang wajar.

“Situasi ini wajar, dan bisa sekali akan terjadi hal-hal tidak pernah kita duga-duga sebelumnya,” jelasnya.

Frans mengakui, situasi ‘ketidakjelasan’ ini tidak hanya berlaku di NTT, dan bukan baru pertama kali terjadi.

“Ini sering terjadi di mana-mana,” katanya. “Bahkan di negara-negara besar, hal inipun sering terjadi.”

Faktor paling mendasar penyebab situasi ini, demikian menurut Frans, adalah sikap dan keinginan semua partai yang selalu ingin menang dalam pilkada.

“Semua partai ingin menang dalam pilkada. Itu pasti. Jadi akan terjadi hal-hal yang mengejutkan, bahwa pergantian paket tidak jarang kita saksikan. Dan situasi ini bisa membuat moral dalam berpolitik dikesampingkan,” ungkapnya terus-terang.

Moral dalam berpolitik, menurut mantan Ketua AMPI NTT ini, akan kurang diperhatikan dalam situasi turbulensi. Pihak atau partai akan menggunakan segala cara untuk sebisa mungkin mengalahkan lawan politiknya.

Baca Juga :  Menelisik dugaan kepentingan di balik Beasiswa PIP