MORAL-POLITIK.COM: Pantun dan cerita dongeng kini sepertinya tidak sekedar menjadi masa lalu budaya bangsa dan suku di Indonesia.

Sebagaimana penuturan banyak orang, dongeng, apalagi pantun, mulai jarang diceritakan ataupun dinyanyikan untuk anak-anak.

Anak-anak zaman sekarang jarang mendapatkan cerita-cerita dongeng yang didongengkan orang tuanya, mungkin lantaran perkembangan teknologi yang membuat waktu kebersamaan menjadi terbatas.

Jikapun pantun dinyanyikan orang, kebanyakan pada saat pesta adat, dan mengharapkan sebuah pantun dinyanyikan di sebuah mall sangatlah imajinatif.

Tentu saja ada banyak alasan positif jika kita, terkhusus anak-anak, mendengarkan pantun ataupun dongeng dari orang tua maupun orang lain.

Ini tentu saja sebuah ironi dalam budaya dan peradaban. Namun pada Minggu (26/11/2017) pagi, bertempat di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang, Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang sewaktu memimpin Misa Komuni Pertama untuk 174 anak, membacakan 9 pantun untuk anak-anak calon penerima Sakramen Komuni Pertama itu.

Di bawah ini moral-politik.com menuliskan secara lengkap ke-9 pantun itu.

Pantun 1
Semut berjalan seiring semarak
Berpadu bersama dengan gerakan khusus
Anak Komuni Pertama pasti bergerak
Berjalan bersama berjumpa dengan Yesus.

Pantun 2
Pohon tomat berbuah lebat
Dipetik orang buat lalapan
Anak Komuni Pertama suka bersahabat
Sambut Kristus sebagai santapan.

Baca Juga :  Puisi: Tenanglah 101 Negriku