Home / Sastra / Jarak, Nasionalisme, dan Imagined Communities

Jarak, Nasionalisme, dan Imagined Communities

Foto: akun facebook everd Scor Rider Daniel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Oleh Everd Scor Rider Daniel *)

 

 

MORAL-POLITIK.COM: Awal mula manusia mengingat cerita, Ibu kandungnya. Kalau tali pusarnya di kubur di belakang rumah. Dan rumah itu Indonesia.

Tanah air Indonesia, tembok pertamanya, dibangun dengan hati-hati karena krisis Jakarta. Tembok itu, untuk sementara pernah berdiri dekat Vredeburg, tapi beberapa waktu, Gulden dari Jogja mengembalikannya: tembok itu kini berdiri di Jakarta.

Tembok sudah dibangun, dinding-dinding itu dianyam dari perasaan anak muda tempo itu. Sampai sekarang, nasionalisme itu sering bergemuruh, juga lewat lirik “Tanah Air Ku Indonesia”. Republik ini pernah punya Saridjah Niung – Ibu Sud, lahir 26 Maret 1908. Dengan teliti meletakan rasanya pada nasionalisme. Lagu itu sering mengundang gemuruh.

Tanah air, di atasnya, proses-proses melengkapi menjadi satu. Barangkali juga tempat pertama, seseorang belajar menginjak bumi dari sudut yang lain.

Tanah air bagi sebagian orang, bisa jadi hadiah cuma-cuma. Adakah tempat yang persis, di bagian sudut lain, yang sama teduh atau dalam Bumi manusia, agaknya kita punya rasa yang mirip, dalam adegan ketika Pram menceritakan Srikandi bernama Minke, kalau dia memang begitu mencintai tanah air. Ternyata, sejarah selalu ada banyak jawaban. Dan tidak selalu menenangkan, atau pun tidak selamanya, kita dijodohkan dengan tanah air yang dibayangkan itu.

Agaknya, kalimat barusan perlu dicatat. Terlalu cepat kalau saja, seseorang membayangkan tanah air akan diciptakan untuk dirinya selamanya. Boleh saja kagum, dan mencintainya. Namun, kenyataan punya banyak jawaban. Bisa saja jawaban itu lain.

Seseorang yang terlanjur percaya, agak sedikit egois. Dan sedikit perlu memikirkan kembali keputusannya. Barangkali, hanya karena, Ia belum memahami apa rencana yang terjadi nanti, dengan pengalaman yang datang bertubi-tubi. Sekali lagi, kita belum berjodoh dengan tanah air. Membayangkan kisah orang-orang, yang karena perut, lalu Ia mangkat. Pergi ke alamat luar negeri. Pernah Ia menyempatkan niat untuk pulang. Tapi nasib punya jawaban lain.

Baca Juga :  Puisi: Mimpi

“Kamu haruskah ke luar negeri?” tanya salah seorang suami calon TKW.

< 1 2 3>

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button