Home / News NTT / Gregor Neunbasu & Gradus Duka Ungkap “Primordialisme Pilkada NTT 2018”

Gregor Neunbasu & Gradus Duka Ungkap “Primordialisme Pilkada NTT 2018”

Rm. Gradus Duka, Pr (kanan). foto: akun fb maria chindy mada

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL-POLITIK.COM — Unsur primordialisme dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) NTT tahun 2018 dipercaya masih kuat.

Budayawan sekaligus penulis Pater DR. Gregor Neonbasu menjelaskan, masyarakat NTT selalu terkategori ke dalam suku-suku, seperti Timor, Flores, Sumba, Lamaholot, dan lain-lain.

“Untuk menentukan pilihan, biasanya, pada awalnya masyarakat akan melihat dari sisi kesamaan suku. Orang Flores, misalnya, memilih orang Flores. Ataupun orang Sumba,” katanya kepada moral-politik.com di Biara Soeverdi, Kelurahan Tuak Daun Merah, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang akhir pekan lalu.

Manakala, lanjutnya, orang sudah capek dengan ‘itu’, orang akan beralih ke dikotomi agama. “Dikotomi agama ini memainkan peranan besar. Orang Kristen akan memilih Kristen, Katolik akan pilih Katolik, Islam akan pilih Islam,” katanya.

Tentu ada perspektif lain, yaitu kepentingan. Ia menambahkan, perspektif kepentingan ini akan bermuara kepada partai politik.

“Kalau kepentingan biasanya lari ke partai politik. Sejauh mana partai itu mampu mengakomodir kepentingannya. Jadi orang memilih, berdasarkan pertimbangan sejauh mana partai akan berguna baginya,” katanya.

Pater DR. Gregor Neonbasu (kiri). foto: ist/moral-politik.com

 

Namun, tambahnya, partai-partai dalam Pilgub NTT yang ‘cukup kocar-kacir’ sekarang ini, membuat orang akan kembali memilih berdasarkan suku dan agama.

Rm. Gradus Duka

Selain Pater Gregor Neonbasu, ada pandangan serupa disampaikan oleh Vitjen Keuskupan Agung Kupang Rm. Gradus Duka.

Baca Juga :  Masyarakat Amabi Oefeto Timur demo ke Polda dan DPRD NTT

< 1 2>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button