By: Djik22 *)

 

MORAL-POLITIK.COM – Lama telah datang embrio mungil berwatak pejuang. Saat dalam kandungan di asuh dengan kasih melampai sayang.

Setiap hembusan napas bunda kala tangannya mengelus-elus perut. Tangan bunda adalah tangan halus, yang tidak ada tara dalam dunia peradaban.

Kisah ini kau (baca: bunda) ceritakan padaku saat di atas gunung berapi lagi mengamuk keluarkan asap panasnya. Gelombang badai, menumbangkan pohon-pohon tua mulai bosan hidup. Lantaran tangan rakus durhaka manusia.

Bertambahnya umurku, kutatap mata bunda dalam-dalam. Ternyata bunda mulai lesu. Matanya mulai rabun, kulit keriput, dan rambut beruban putih yang tidak ada hitam sedikitpun.

“Apa cita-cita bunda menginginkan aku lahir?” bisikku di telinga kanan bunda, sembari memeluk hangat badan yang tidak lama lagi menuju pembaringan.

“Waktu kau masih dalam kandungan, bunda selalu mendoakan kelak berilah pengabdian kepada nusamu: inilah alam pertiwimu yang memiliki beragam etnis dan kehangatan alam,” kata bunda sembari membelai rambutku. “Jangan rusaki lagi perawan alam indahmu,” sambung bunda.

Tak sadar bunda menitikkan air mata.

“Kenapa bunda menangis?” tanyaku kalem.

Tak ada jawaban panjang untuk meneruskan cerita. Karena saat itu, bunda takut kalau cerita keburukan ini di dengar oleh anak-cucu kelak.

***

Tumbuh besar, aku meninggalkan bumi lahirku. Bersama kawan-kawan mencari patahan-patahan emas pengetahuan di tanah perantauan.

Aku memilih ke Makassar, sedangkan sebelas kawanku memilih terpisah-pisah.