Home / Sastra / Puisi Dua Puluh Dua Nyawa

Puisi Dua Puluh Dua Nyawa

Ilustrasi. (foto: djik22)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Karya: Djik22 *)

 

 

Seruan azan Subuh berkumandang
Lantunan merdu bergelombang
Tenangkan gelisah menuntut jalankan perintah.
Berat penat terlahap tidur tenang
Mati sesaat bernapas halus
Membuai mimpi putarkan raga di pembaringan.

Pada pohon-pohon beranting
Di bebatuan keras menghitam pekat
Telah tertulis penuh
Ada yang masih terlihat
Ada yang masih terawat.

Dimana lagi harus kutulis?
Spanduk-spanduk tak lagi butuh lukisan.
Dinding hitam merah sudah dioles
Yang tersisa pada lembar dua puluh dua.

Buku catatanmu kupinjam menggores coret.
Mengais memilih kata berirama rima
Sajak tak terikat berakhiran bebas
Panjang bait pada baris.

Bau halus kertas putih
Harum tinta hitam sisa sedikit
Hitungan nyawa sedikit lagi berakhir
Kubutuh terbuka hamparan kamar-kamar.
Dikelilingi tumpahan literasi berserak-serak,
seolah lama tertinggal pergi merantau
Padahal penghuni ramai memasuki
Mengkaji mengaji melurus

Dua puluh dua nyawa
Tambahkan ungkapan imajinasi baur
Rebutan membawa kabar bara sukma.

Bagaimana membalas budimu?
Jagalah canda-tawa
Jagalah kawan jeritan kata-kataku
Kelak dibaca melepas penat.

Baca Juga :  Kenapa Sih Risma atau Ridwan Kamil Harus Ditarik-tarik ke Jakarta?

< 1 2>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button