Oleh: Ama Ata *)

 

 

MORAL-POLITIK.COM — Sekian lama bergelut di organisasi, saya selalu mengulangi kesalahan yang sama. Di sayat perlahan-lahan oleh orang yang merasa lebih hebat, tapi saya diam.

Saya belajar untuk merendah diri, merelakan kemenangan untuk mereka, sembari saya berjuang dalam kesendirian. Saya selalu berbicara sendiri, menyimpulkan segala hal yang saya hadapi sepanjang hari. Saya melihat orang-orang tertawa bahagia dan saya hanya terus bermimpi. Mendengar banyak orang membanggakan temannya atas keberhasilan sesaat, saya  juga terus berbicara dengan diri saya sendiri.

Saya melewati banyak hal pahit, yang entah kapan dapat saya sembuhkan. Dari senyum bahagia mereka, saya aminkan meski hati terluka.

Banyak orang menilai saya sebagai sosok yang pendiam dan mudah terbunuh. Lebih banyak lagi mengganggap saya hanyalah seorang yang pantas disamakan dengan generasi kemarin sore. Entahlah, saya bingung sendiri.

Ketika saya harus memaksa diri agar dihormati, saya merasa itu terlalu berlebihan. Ketika saya memaksa diri untuk tidak menghargai orang lain, itu adalah dosa terbesar yang sedang saya kibarkan. Saya selalu mengucap maaf untuk siapapun, meski kemarahan itu tak kunjung redah. Saya selalu memberikan jalan bagi siapapun yang ingin lebih cepat menuju tujuannya. Jika saya tidak memberikan jalan, saya merasa terlalu egois.

Hidup saya tetap seperti itu, bergaul dengan siapa saja. Karena pada prinsipnya, saya tidak suka berbangga maupun berbuat berlebihan, dan sebenarnya masih banyak orang yang lebih bisa dari saya.

Saya selalu netral. Saya hidup hanya sekali. Selalu dilupakan adalah hal positif, karena saya akan selalu mengingatkanmu kembali jika kamu melupakan apa yang sudah pernah ada.

Juga, selalu diingat adalah hal yang normal. Kini saya di posisi itu. Saya selalu mengingat siapapun teman saya, saudara/i saya, sahabat saya bahkan pembenci sekalipun. Sekian lama menjadi penonton, tidak suka berbicara, walau kadang saya tampil bernyanyi di hadapan umum.

Ada suatu masa dimana saya di anggap sampah, dan itu adalah masa dimana saya tidak bisa lepas dari pergaulan anak muda. Setiap hari bergantungan di mobil, meneriakkan arah tujuan mobil pada penumpang di tengah kota, duduk di emperan pertokoan layaknya preman. Itulah masa dimana saya belajar mencari teman. Masa yang sulit saya lupakan, dan akan tetap agung dalam hidup meskipun banyak orang menilai saya adalah sampah.