Oleh: Iin Faradilah *)

 

 

Pendirian kokoh sekeras baja
Meski perih bercampur luka
Sudi diperbudak oleh kodrat

Di kala malam sedang mencekam
Kantuk kau tahan demi tugas yang dianggap suci
Melayani hasrat yang membabi buta
Tak peduli rintihan dan desahan sakit
Terus memasuki hingga kepuasan mencapai puncak

Ketika petang menyapa
Belum usai sakit atas luka semalam
Sudah harus diembankan kewajiban rumah tangga
Senyummu tetap terjaga
Tercurahkan dengan murah
Seakan kau baik-baik saja
Bahkan luka semalam dan letih sekarang
Kau anggap kenikmatan yang telah merutinitas

Terpenjara oleh ruang tak berjeruji
Rumah tempat berlindung sudah tak asri lagi
Memaksa diri merangkap tugas
Dari ibu rumah tangga hingga kepala keluarga

Beban dipikul bahu sendirian
Tanpa mengeluh, kau menjaga dalam diam
Terus membungkam
Biarlah ia merintih dalam tangis dicela hati terdalam
Hingga akan kering sendirinya

Tak pernah berpikir untuk usai
Janji sakral waktu itu
Bagimu adalah sambungan helaian nafas
Tak mampu memisahkan diri
Meski tengah menjadi korban
Kau tetap berdiri dan berpendiri
Itu harga diri
Harga mati seorang wanita

Selagi nafas masih dikandung badan
Perjuangan masih terus kau tuai
Akhir, hanya bila telah berpulang kepada-Nya

Lembata, Sabtu (20/1/2018)

*) Penulis tinggal di Kabupaten Lembata