Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi NTT Maritje Pattiwaellapia. (foto: ambuga/moral-politik.com)

MORAL-POLITIK.COM – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada bulan Januari 2018 mengalami inflasi sebesar 0,94 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 131,91.

“Inflasi ini disebabkan kenaikan indeks harga pada lima dari tujuh kelompok pengeluaran, di mana kelompok bahan makanan menjadi penyumbang terbesar,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi NTT Maritje Pattiwaellapia kepada wartawan di Kota Kupang, Kamis (1/2/2018).

Dari tujuh kelompok pengeluaran, lanjutnya, yang mengalami inflasi paling besar yaitu pada kelompok bahan makanan sebesar 5,26 persen, diikuti kelompok bahan makanan jadi 0,81 persen.

Selain itu, sambungnya, kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 0,21 persen, sementara kelompok pendidikan merupakan yang terendah sebesar 0,20 persen.

“Hanya ada dua kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yaitu sandang sebesar 0,25 persen dan kelompok transportasi 2,65 persen,” tegasnya.

Ia mengatakan, dua kota IHK di NTT yang mengalami inflasi terbesar yaitu Kota Kupang sebesar 1,06 persen dan Maumere 0,17 persen.

Disebutkannya, sejumlah komoditi pada kelompok bahan makanan yang menjadi penyumbang utama inflasi sebesar 0,94 itu, yaitu pada beberapa jenis ikan seperti kembung, kakap untuk NTT secara keseluruhan.

“Kemudian juga beras yang secara nasional juga mengalami inflasi cukup tinggi, sementara di NTT andilnya 0,16,” katanya.

Dijelaskan lagi bahwa khusus untuk komoditi beras terus mengalami kenaikan harga per minggu hingga terakhir mencapai Rp 11.767 per kilogram, dengan kondisi harga secara rata-rata mencapai Rp 11.614.

“Kalau Desember 2017 kemarin harga beras kita rata-rata Rp 11.200, jadi naik sekitar Rp 500, dan bukan hanya di NTT saja tapi secara keseluruhan di Indonesia mengalami kenaikan,” katanya.

Dengan realitas ini, Maritje berharap Badan Urusan Logisitik (Bulog) setempat dapat memastikan stok beras yang aman untuk kebutuhan masyarakat di provinsi berbasiskan kepulauan itu untuk beberapa bulan ke depan sehingga harga beras bisa terkendali.

“Melihat perkembangan beberapa minggu di Januari 2018 ini harganya mengalami peningkatan, mudah-mudahan di Februari, apalagi musim hujan juga masih berlangsung,” pungkas dia

 

Penulis : Ambuga
Editor   : Erny