Waketum Gerindra Ferry Juliantono menduga PSI ‘diistimewakan’ Jokowi salah satunya karena keberadaan Sunny Tanuwidjaja, di sisi lain Sekjen PSI membantahnya. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

 

MORAL-POLITIK.COM – Kemunculan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam kancah Pemilu Legislatif 2019 mengundang interpretasi lain dari partai politik terdahulu.

Cnnindonesia.com melansir, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono menduga Partai Solidaritas Indonesia (PSI) diberi keistimewaan oleh Presiden Joko Widodo. Alasannya, karena ada mantan staf Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pembina PSI, yakni Sunny Tanuwidjaja.

“Karena orang yang berada di belakang parpol itu memiliki kedekatan hubungan dengan Pak Jokowi, karena ada Sunny,” ucap Ferry saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (3/3).

Ferry menjelaskan, dugaannya itu bisa saja benar karena Jokowi baru saja bertemu dengan petinggi PSI yang dipimpin Ketua Umumnya, Grace Natalie di Istana Negara pada 1 Maret lalu. Berdasarkan penuturan Grace, pertemuan itu membicarakan strategi pemenangan Pemilu 2019.

“Bisa jadi partai ini sejak awal sudah memiliki keistimewaan di mata Jokowi,” ujar Ferry.

Hal serupa diutarakan politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nasir Djamil. Bahkan, Nasir mengklaim publik sudah menduga PSI dibentuk untuk membantu Jokowi di Pilpres 2019.

“Sejak awal publik memang sudah tahu bahwa PSI itu dibentuk untuk menjadi kendaraan politik (Jokowi) di Pilpres 2019,” ujar Nasir melalui pesan singkat, Sabtu (3/3/2018).

PSI telah mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi untuk maju kembali menjadi calon presiden.

Usai pertemuan di Istana Negara, Grace menyatakan akan turut menjual Jokowi ke anak-anak muda di Indonesia lewat jejaring media sosial.

Ketua Umum PSI Grace Natalie (tengah) bersama Sekjen PSI Raja Juli Antoni (kanan) dan Ketua DPP PSI Tsamara Amany (kiri) memberikan keterangan kepada wartawan di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, 1 Maret 2018. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)

 

Sementara itu, Peneliti Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi), Hendri Satrio menilai sejauh ini PSI masih belum konsisten.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 37 = 43