Everd Scor Rider Daniel.

 

Oleh: Everd Scor Rider Daniel *)

MORAL-POLITIK.COM – Do you speak feminism? Feminis adalah keinginan untuk mengalami keadilan.

Tapi keinginan itu hanya harapan karena perempuan belum terbebas dari dominasi dan peminggiran hak (gender exclusion).

Ekslusi adalah krisis yang menjelaskan mengapa hak-hak perempuan begitu mudah dicelakai. Ekslusi dan dominasi dengan sadar memproduksi kekerasan terhadap perempuan.

Relasi itu mempertahakan penguasaan: ada yang menguasai dan dikuasai. Dan Perempuan adalah bagian dari objek yang dikuasai. Ekslusi bekerja dengan prinsip penguasaan untuk dengan sengaja mempertahankan relasi kekerasan, dan di belakang asumsi itu ada semacam ideologi kolonialisme, yang terus-menerus mentransfer daya agar gairah penindasan dapat terus bekerja.

Tukar tambah antara keringat dan materi membuat dominasi terus bertahan hidup. Dan perempuan, lagi-lagi adalah objek dalam persepsi kekerasan, dan itu mengapa perempuan belum tiba pada suasana sosial yang tenang.

Eklsusi adalah suasana penjajahan yang masih bertahan hingga sekarang. Eklusi mudah dijumpai dalam ruang-ruang produksi yang mana akan terus ada di dalam naluri modal yang pragmatis.

Perempuan dengan segala ketidakberpihakan itu, merasa ruang publik mempersempit kemampuan-kemampuan mereka (Haryatmoko; 2010, 137). Sesungguhnya, pada tubuh perempuan, melekat seluruh jenis ketidakadilan: ekonomi, politik, seksual, hukum, kultur, teologi (Gerung dalam Jurnal Perempuan, 2014).

Masalahnya nasib perempuan dalam ekonomi masih menemui celaka karena negara tidak tekun berpikir bagaimana mengkonstruksi ruang nyaman kepada pekerja perempuan ketika partisipasi mereka terus meluas sesuai kebutuhan produksi.

Nasib perempuan dalam dunia tenaga kerja hari-hari ini lebih banyak memunculkan ketidakamanan. Negara tidak mengerti istilah human security yang sensitif perempuan, dan bagaimana pengarusutamaan gender seharusnya dikuatkan. Partisipasi pekerja perempuan dalam produksi pun terus-menerus memproduksi insiden karena mereka berjalan tanpa kepastian hukum.

Kebijakan yang tidak sensistif terhadap pekerja perempuan: sebagian perempuan belum menjalankan perannya sebagai Ibu karena tidak sempat memberi ASI kepada bayinya, jam kerja yang tidak wajar, upah rendah, perempuan dan insiden kekerasan dalam struktur tenaga kerja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

79 − = 71