Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com

MORAL-POLITIK.COM – Hari ini Minggu (26/3/2018) umat Katolik di seluruh dunia merayakan Misa Minggu Palm atau Minggu Palma.

Di Katedral Kristus Raja Kupang, misa pertama pada acara Minggu Palm ini di pimpin oleh pastor pembantu katedral Rm. Fironimus Nitsae, Pr, diawali Pukul 06.00 Wita.

Umat yang hadir kusuk mengikuti semua rangkaian acara misa lebih kurang 7.000 orang.

Banyaknya umat yang datang mengikuti misa sehingga tampak ruangan gereja berlantai dua ini penuh padat, malah hingga ke aula paroki, halaman yang cukup luas. Bahkan ada yang berdiri di bibir jalan.

Gelaran misa berawal dengan upacara pembuka di luar gereja, ditandai dengan lagu pembuka dan atention pembuka: “Sambil membawa ranting-ranting zaitun anak-anak Ibrani menyambut Tuhan seraya berseru Hosanna di tempat yang maha tinggi.

Usai itu dilanjutkan dengan doa pemberkatan daun palm, bacaan injil sebelum pemberkatan yang diambil dari Markus 11:1-10, lalu bait pengantar injil, dan kisah sengsara yang diambil dari Markus 15:1-30.

“Tuhan menganugerahkan kepada kita semua berbagai potensi, berbagai ragam kemampuan yang seharusnya disadari dalam diri kita masing-masing. Manakala kita mendengar bacaan-bacan injil tadi, tentan memaknai potensi-potensi, sekalipun kecil yang kita masing-masing miliki,” kata Hiro menyentak umat di awal khotbah atau homili.

Pada bacaan perama, ingat Hiro, diambil dari Kitab Nabi Yesaya, kita menemukan paling sedikit tiga hal. Pertama lidah untuk mewartakan segala hal kebaikan kepada orang lain; kedua, Tuhan menganugerahkan telinga untuk semakin memertajam pendengaran kita tentang apa yang kita dengar, tentang apa yan disuarakan orang lain agar nanti kita juga menyuarakan kepada orang lain yang namanya Sabda dari Tuhan; dan ketiga, Tuhan menganugerahkan kepada kita kepribadian untuk tetap berdiri tegak dalam sikap terhadap permasalahan yang dialami dalam diri kita masing-masing.

Namun, sambung Hiro, jika kita merefleksikan lebih jauh tentang kemampuan-kemampuan yang ada pada diri, kita juga berhadapan dengan kenyataan-kenyataan berbeda, dengan keterbatasan-keterbatasan sebagai manusia.

“Dengan potensi-potensi yang telah diberikan oleh Tuhan, apa yang kita gunakan dari lidah, dari telinga, dan kepribadian sebagai seorang murid sejati?” sentak dia.

Menurutnya, ada hal-hal yang berbeda, yang bertolak belakang ketika kita mengekspresikan ketiga hal tersebut. Lidah yang semestinya mengangkat kenyataan tentang mereka yang letih lesu, pada akhirnya bisa saja sama sekali tidak kita gunakan, malah sebaliknya. Kita menjatuhkan orang lain dengan fakta berbeda, kita membangun konsep yang berbeda, akhirnya kita wartakan kepada orang lain hal yang berbeda.

Hal kedua, kupas dia, tentang telinga yang semestinya kita gunakan untuk semakin memertajam pendengaran kita, juga kita wartakan secara berbeda. Kerap kali kita dengarkan dari telinga kiri lalu keluarkan dari telinga kanan.

“Tentang kepribadian. Setelah Tuhan berikan, apa yang kita lakukan dari kepribadian tersebut?” tegas dia.

Pada bacaan perama, sambungnya, kita diingatkan untuk tidak menunjukkan diri kita sebab di sana ada Tuhan. Sebab kita tidak tidak akan di nodai dan dilidahi.

“Namun ketika ada masalah di keluarga kita masing-masing, kita mulai mengeluh, menuntut banyak hal. Malah sampai memertanyakan kemuliaan Tuhan yang diberikan kepada kita. Sementara Tuhan telah datang ke dunia bagi kita semua,” tegas dia.

 

 

Penulis: V.J. Boekan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

− 7 = 1