Ilustrasi. (foto: duapah.com/moral-politik.com)

Puisi-puisi Fr. Deodatus D Parera *)

Masih Menunggumu

Di punggung malam ini
Bulan tak lagi seindah dulu.

Padang-padang yang senyap
Tanpa dirimu.

Mataku memandang jauh
Meninggi ke ujung cakrawala.

Kau pulang entah kemana
Hingga petang, pintu rumah
Masih kubuka demi dirimu.

Kau pergi jauh.
Di sini, aku masih menunggumu
Bersama malam yang kukumpulkan
Dalam mimpi dahulu
Yang sedang kusemaikan di gerbang rumah
Seperti benih-benih masa depan.
Penfui, 2018

Halaman Rindu Kedua

Dedaunan rindu jatuh di sekitar gubuk lepas
Saat lambaian tangan tak lagi terlihat di sudut
Kepergianmu.
Halaman rindu yang pertama
Kau tulis dengan penantian tentang
Perjuangan dan air mata.
Di halaman rindu yang pertama
Tak ada apa-apa kecuali sendiri.

Takkan lagi air mata ini
Kausurati dari sebuah malam lalu
Agar sejuta harap demi iba
Untuk sebuah melodi gemericik air
Yang tertetes di balik sepoi.
Penfui, 2018

Kunyalakan Lilin

Lilin yang terus bernyala di balik doa-doa
Kehilangan cahayanya tepat pujianku
Kepada-Mu. Angin sedang kerasan
Bertandang di sisi ini.
Tangan dan seluruh tubuhku
Kuajukan kepada-Mu
Agar Dikau tak pernah keluar dari rumah
Sebelum aku letih dan sudah
Ketika memulai perjalanan.
Penfui, 2018

Sabda

Adalah embun memugari sukma
Adalah pagi merawat mimpi
Adalah doa menguatkan harap
Adalah jalan menyongsong tepi
Adalah malam menanti pagi
Adalah dermaga melintasi samudera
Adalah segala-galanya.
Penfui, 2018

Derita Kaum Hawa

Tak ada yang lebih mulia
Kecuali kaum perempuan dari segala bangsa
Yang datang dan pergi demi manusia.
Senyap hari-hari adalah senyap hati nurani
Kaum perempuan laksana jembatan penyeberangan
Tergilas malam ke malam berikut
Terinjak tanpa ampun
Tertinggal di semak belukar
Hingga malam menelan jiwanya.
Tak ada yang lebih laknat
Dari makluk liar manusia pongah
Yang kerap menyembunyikan angkara
Tergulung kata-kata kasmaran.
Para pejalan tak pernah hirau
Kendati suara parau dari dalam hutan pinus
Memanggil-manggil sudi.
Entahlah, nurani dan akal sehat
Kian dinistakan dengan bedil dan peluru
Yang tak berhenti menembus
Ego dan ingat diri serupa
Kosmetik yang kerap
Lekas tertelan angin.

Penfui, 2018

 

 

*) Fr. Deodatus D. Parera, lahir di Oepoli, 25 Juni 1990. Calon imam Keuskupan Agung Kupang, alumnus Fakultas Filsafat-Unwira, 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 79 = 88