Foto: Ist/Moral-politik.com

MORAL-POLITIK.COM – Program Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera (Anggur Merah) atau DeMAM (Desa Mandiri Anggur Merah) telah dihentikan sejak tahun 2017.

Setelah diberhentikan, para pendamping program DeMam kini dialihkan statusnya menjadi tenaga kontrak daerah pendamping koperasi, karena telah didirikan 1.918 koperasi untuk mengawal desa-desa yang telah mendapatkan dana tersebut.

Program yang dimulai sejak tahun 2011 hingga 2017 itu telah menghabiskan APBD NTT sebesar Rp 817,5 miliar yang dibagikan kepada 3.270 desa dan kelurahan di seluruh NTT.

Terkait pengelolanya program DeMAM, sudah diserahkan kepada Dinas Koperasi Provinsi NTT.

“Tahun 2018, kewenangan pengelolaan pendampingan koperasi yang dibentuk sebagai imbas dari program DeMAM telah dilimpahkan kepada Dinas Koperasi,” kata Kepala Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Timur, Wayan Darmawa yang diwakili Sekretaris Bappeda Provinsi NTT, Agus Fahik saat mempresentasikan makalah pada acara Musrenbang RKPD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Tahun 2018 di Kantor Bupati TTS, Soe, Jumat (23/3/2018) Pkl. 10.00 WITA.

Dia mengatakan, keberhasilan sebuah program yang dijalankan pemerintah tentu tidak bisa lepas dari peran serta masyarakat.

“DeMAM, misalnya. Kita mesti melihat semuanya dengan mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya mental masyarakat NTT. Mental kita mesti diubah terlebih dahulu,” katanya.

Mental ini, lanjutnya, berperan besar dalam memajukan sebuah program.

“Kita dari kecil diajarkan, ‘Anak, belajar rajin supaya besar nanti bisa jadi PNS’. Ini diajarkan dari generasi ke generasi,” jelasnya.

“Ini berbeda dengan anak seorang pengusaha. Mereka diajarkan, ‘Anak, pulang sekolah, jaga kios ya’. Ini sangat berbeda dengan pikiran kita,” tegasnya.

Dia menerangkan, ini sangat berpengaruh terhadap kemajuan anak-anak dan masyarakat.

“Imbasnya kita bisa rasakan sekarang. Anak-anak kita tidak pernah berpikir untuk membuat sebuah terobosan baru. Mereka hanya bekerja jika ada pekerjaan yang tersedia,” terangnya.

Termasuk, tegasnya, pengembalian dana program DeMAM yang terbilang sendat.

“Akibat mental seperti itu, kita meminjam uang dan tidak bisa dikembalikan. Itu ironisnya kita. Dapat bantuan pemberdayaan seperti dapat uang gratis,” katanya.

Dia menyesalkan, dana pemberdayaan selama ini tidak bisa diproses secara hukum.

“Namun sekarang sudah bisa diproses, setelah dialihkan statusnya menjadi koperasi. Kita bisa menempuh jalur hukum jika ada penyalahguaan,” pungkasnya.

 

 

Penulis : Ambuga
Editor   : Erny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

6 + 1 =