Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang. (Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com)

 

MORAL-POLITIK.COM – Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang memimpin misa pontifikal di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang, Selasa (28/3/2018) Pkl. 09.00 WITA.

Misa ini sendiri diikuti oleh seratus lebih imam yang ada di Keuskupan Agung Kupang, puluhan diakon, frater dan ratusan suster, dan sekitar 6.000 umat. Tampak gereja dua lantai ini penuh, halaman depanpun duduk sekitar 250 umat.

Pada pengantar panduan misa pontifikal dikatakan bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah Imam Agung sejati. Pada malam perjanjian terakhir, Yesus mengikutsertakan para Rasul untuk mengambil bagian dalam martabat imamat-Nya yang Kudus. Sebagaimana para Rasul, para imampun demikian. Mereka mengambil bagian dalam martabat imamat Yesus Kristus, melalui sakramen imamat yang diperoleh dalam tabisan imam.

Kita patut bersyukur atas hadirnya sakramen imamat di dalam Gereja kita. Dalam perayaan ekaristi ini para imam akan memperbaharui janji imamatnya di hadapan Bapak Uskup dan umat beriman, sebagai tanda kesetiaan dan ketaatan kepada Kristus dan Gereja-Nya.

Dalam perayaan ekaristi ini juga, Bapak Uskup akan memberkati Minyak Orang Sakit, Minyak Katekumen, dan Minyak Krisma, yang digunakan oleh para imam dalam pelayanan imamat mereka.

Bacaan pertama pada misa ini diambil dari Yesaya 49:1-6, bacaan kedua dari Roma 12:1-8, bacaan injil diambil dari Yohanes 13: 21-33, 36-38.

Pada homili atau khotbah, Mgr. Petrus Turang menyentak semua yang menghadiri misa dengan mengatakan bahwa peristiwa yang disampaikan dari firman pada hari ini memang sudah mejadi kebiasaan dalam Gereja Katolik, kebiasaan yang baik tentang membangun kehidupan iman pada minggu suci ini. Ia juga mengingatkan di tempat lain telah melaksanakan Misa Krisma untuk memperingati Hari Ulang Tahun Sakremen Imamat dan juga pemberkatan minyak-minyak yang akan menyertai dalam pelaksanaan sakremen imamat, karena ketiga minyak hanya diberikan secara bermanfaat oleh para imam yang diurapi.

Pada permulaan puasa ini, kata dia, Sri Paus mengangkat injil dari Mateus 24:12; Karena makin berkembangnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.

Menurutnya, pada masa puasa ini, kita tentu mencari jalan-jalan untuk memperbaharui iman kita sebagai umat. Paus berkata: Bahwa semua yang Tuhan Allah berikan adalah baik, tidak ada yan tidak baik, sebab itu semua untuk kebahagiaan dari manusia, tapi kamu hendaklah menjadi pelayan Yesus Kristus yang baik, terdidik dalam pokok-pokok iman, dan dalam ajaran yang sehat.

Saya rasa, katanya, kalimat ini memang cocok bagi kita para iman untuk menjai pelayan-pelayan Yesus yan baik.

“Kristus, terutama pada masa peringatan Minggu Sengsara Pertama, kita mengarahkan hati kepada salib, yang boleh dikatakan Tuhan Yesus diangkat, dia membangun pola berpikir berbeda dengan manusia. Dia melihat bahwa gratifikasi itu jatuh ke bawah, seperti batu tidak pernah jatuh ke atas,” jelas dia.

Uskup yang memimpin gereja di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Rote Ndao, Sabu Raijua, Alor ini menegaskan Kristus dengan Dia di salib, Dia ditinggikan, Dia membuat gratifikasi ke atas, di mana semua orang akan jatuh ke Dia di atas. Untuk apa? Supaya kita sekalian sebagaimana Yesus datang untuk mewartakan kerajaan Allah. Supaya kita sebagai umat beriman, sebagai pastor-pastor, belajar menjadi pelayan Kristus yang baik.

Hanya satu hal yang diminta, ingat dia, yaitu untuk mewartakan tanda-tanda kerjaaan Allah di dunia.

“Minyak ini yang akan diberkati memang kita gunakan untuk menunjukkan tanda-tanda itu. Kenapa? Karena di situlah kita bertemu dengan Yesus yang di salib, karena Dia mewartakan Kerajaan Allah. Ini tidak dimengerti, sebab kerajaan Allah berarti ada pusat, dimana tidak ada kemungkinan lain untuk bisa ikut dengan Yesus,” tambahnya.

Pelayan Kristus yang baik

Mgr. Turang mengingatkan, imam-iman menjadi pelayan Kristus yang baik, dia selalu taat untuk mencari dan menemukan dalam perjuangan bagi manusia di dunia ini tanda-tanda kerajaan Allah. Maka kita pada permulaan puasa harus bertobatlah karena kerajaan Allah sudah dekat.

“Kita kembali untuk mencari hal itu, karena menjadi pekerjaan dasar dari seorang imam, yang menurut hemat saya: Menemukan untuk membagikan tanda-tanda kerajaan Allah di dunia ini kepada manusia. Salah satu tanda ini adalah minyak,” ungkapnya.

Tapi untuk menjadi pelayan Kristus yang baik, sebut dia, kita harus terdidik dalam pokok-pokok iman. Jangan diakon-diakon, iman setelah ditabiskan tidak pernah belajar lagi untuk mendalami imannya dengan lebih baik sehingga dia memang dia kurus kering, dia tidak punya apa-apa untuk disampaikan kepad dunia/masyarakat yang selalu berubah dengan cepat.
Oleh karena itu, tahun ini di keuskupan ini kita mulai dengan Tahun Dekonat supaya mereka mengerti benar-benar perkembangan dunia

Uskup juga ingatkan kepada para diakon, pada tanggal 31 ada pentabisan iman kamu tidak punya hak untuk ditabiskan. Kamu harus bisa menunjukkan bahwa kamu terdidik untuk menjadi imam dengan pokok ajaran iman.

“Adakalanya diakon-diakon berpikir mereka diperlambat tabisannya. Mereka dipersulit untuk menjadi iman. Tidak supaya menjadi iman yang benar-benar baik, yang terdidik di dalam pokok-pokok imam, termasuk memahami dunia ini dimana kalian akan masuk dan memberikan pelayanannya dengan ajaran-ajaran yang sehat, karena dunia ini ada begitu banyak ajaran yang tidak sehat, terutama dengan teknologi moderen, teknologi komunikasi, dan lain-lain,” sambung dia.

Mgr mencontohkan, seorang suster mengirimkan ayat Mateus padahal di kutip dari injil lain. Ini akan membuat orang bingung. Jika pastor melakukannya berarti dia akan membuat kekaburan tanda-tanda kerajan Allah.

Menjadi pelayan Yesus Kristus yang baik, tegas dia, memang kita harus memahami bahwa kita punya tugas untuk mewartakan kerajaan Allah di dunia. Coba lihat tadi dalam bacaan injil kita diberitahu tentang kharakter-kharakter dari orang yang percaya kepada Kristus.

“Memang di dunia ini ada yang berkharakter Yudas, Petrus, dn lain-lain. Itu sebenarnya menjadi kekuatan dalam perkembangan perutusan Kristus yang memberikan kepad masing-masing orang karunia-karunia. Oleh sebab itu, pada hari imamat ini para imam saling berterima kasih, dan saling mengampuni karena kalian terkadng saling potong untuk melakukan karunia itu,” sebut dia.

Anda juga harus melihat bahwa pastor-pastor ini tidak melakukan sesuatu kepada pastor-pastor yang mungkin punya kelebihan lain. Anda harus bekerjasama dengan tanggung jawab bersama supaya pelayanan di keuskupan ini benar-benar menjadi nyata. Jangan karena persoalan kecil pastor paroki dengan rekan pastor lain tidak bisa makan sama-sama lagi. Ada banyak yang terjadi.

Bahwa memang, ujarnya, apa yang dikatakan Yesus itu ada banyak terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Kita harus bisa menunjukkan sebagai pelayan yang baik, yang terdidik dalam pokok-pokok iman yang baik dan yang sehat, karenanya kita harus belajar. Itulah tujuan kita menjadi iman, sebagai pelayan Kristus. Gratifikasi kita harus mengangkat ke atas. Kita harus mengupayakan agar orang-orang melihat ke atas, karena di sana ada kemuliaan.

Kendati susah tapi anda harus perlihatkan kepada umat tegak supaya umat yakin bahwa pastor ini sungguh-sungguh membawa kabar gembira. Jangan sampai pastor membawa umat seakan-akan dalam perarakan ke pemakaman. Memang harus ada hal yang diperbaiki, Karena itu, hari ini kita rayakan misa pontifikal yang seharusnya dibuat pada misa Kamis Putih, tapi sekarang kita buat pada hari Selasa. Sebab ini kesempatan untuk sebentar kita melihat semua.

“Ingat minyak lama yang kita pakai untuk pelayanan kita haru ganti dengan minyak yang baru, jangan berpikir ini masih bagus. Tidak harus dibuang, ganti dengan minyak yang baru. Kapas yang baru, minyak yang baru supaya hati kita menghadap umat yang baru pula,” tegas dia.

Uskup juga mengatakan, kalau lain hari uskup dan para umat menyakiti hati para imam, minta maaf. Tapi kamu juga harus minta maaf kepada uskup dan umat. Jangan selalu kami yang minta maaf, kamu juga harus bisa minta maaf. Supaya pelayanan kita kepada seluruh umat selalu menampakkan tanda-tanda kerajaan Allah.

“Kita juga harus bisa masuk untuk bekerjasama dengan suster yang ada di Keuskupan Agung Kupang yang jumlahnya tak terhitung ini; bukan main jumlahnya. Semoga kekayaan ini sungguh-sungguh memberikan satu kegembiraan bagi umat di sini untuk menjadi umat dan murid-murid Yesus yang baik, yang sadar bahwa dia sungguh-sungguh harus hidup rukun dengan sesame, yang membangu kebersamaan, memberikan kepada dunia, terutama daerah ini satu suka cita,” sambungnya.

Rekam e-KTP

Oleh karena itu umat Katolik yang sudah berhak untuk rekam e-KTP sebaiknya pergi rekam, jangan main-main supaya menjadi warga bangsa Indonesia yang baik untuk melaksanakan hak-hak kamu, terutama bagi umat pemula yang artinya hingga tanggal 27 Juni berumur 17 tahun, berarti sudah bisa menggunakan hak politiknya. Itu juga bagian dari menjadi pelayan Yesus Kristus, karena menghadirkan tanda-tanda demokrasi, peradaban di dunia ini.

“Jadi orang-orang muda jangan berpikir susah kalau belum punya e-KTP, pergi rekam. Jangan pikir dia dari Belu atau dari Malaka sehingga kalau ada apa-apa dia cepat lari kesana. Kalau sudah tingal di sini sekurang-kurangnya 6 bulan, kamu punya kewajiban untuk memperbaharui. Ini juga bagian dari tugas perutusan untuk memperhatikan orang-orangnya sebagai warga Negara yang setia,” himbaunya.

“Kristus setia kepada Bapak-Nya, imam-imam setia kepada Yesus Kristus, umat semua setia kepada Yesus Kristus, tetapi juga setia kepada peraturan yang mengatur hidupnya supaya tertib, rukun, saling membantu untuk masa depan yang lebih baik,” pungkas dia mengakhiri kotbah.

Perbaharui Janji Imamat

Uskup Turang mengatakan, menurut kebiasaan yang baik dalam gereja kita pada misa Krisma ini para imam bersama uskup berjanji kembali imamat mereka.

Dirinyapun mengundang para imam untuk bangkit berdiri lalu sama-sama memperbaharui imamatnya….

 

 

Penulis: V.J. Boekan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 + 6 =