Gregor Neunbasu (kiri). Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com

MORAL-POLITIK.COM – Antropolog dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unika) Kupang Pater Gregor Neonbasu, SVD mengatakan akan mengunjungi Pulau Lembata.

Kunjungan ini dalam rangka melakukan penelitian dalam bidang antropologi.

“Saya tahun lalu juga ke lereng Ile Ape, dan saya sudah rencana untuk datang lagi ke sana (Lembata). Rencananya mau ke Atadei karena ada sebuah kuba baru di sana. Saya sedang menunggu informasi dari Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTT,” kata Neonbasu kepada Moral-politik.com di Kota Kupang, Senin (19/3/2018).

Penulis buku ‘Citra Manusia Berbudaya: Sebuah Monografi tentang Timor dalam Perspektif
Melanesia’ itu mengatakan, Pulau Lembata memiliki kaitan dengan Pulau Timor, karena secara topogeni (studi tentang nama tempat dan suku), ada beberapa kesamaan antara kedua tempat itu.

“Sekarang saya belum bisa menyimpulkan mengenai kesamaan itu. Saya harus melakukan penelitian terlebih dahulu,” ungkapnya.

Ketika dikonfirmasi mengenai penemuan batu ukir di Pulau Lembata, Neonbasu mengatakan dirinya belum bisa memberikan kesimpulan.

“Nanti saya pelajari dulu,” katanya.

Ia menegaskan, provinsi NTT, terkhusus Pulau Lembata menyimpan banyak rahasia yang belum digali. Selama beberapa tahun terakhir ini, lanjutnya, dirinya sedang memusatkan perhatian pada wacana ‘Melanesia’ dan ‘Oceania’.

Penemuan Batu Ukir Kuno di lembata

Sebuah ukiran kuno pada dinding batu ditemukan warga Desa Hingalamamengi, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata.

Ukiran kuno tersebut memiliki ukuran panjang 20 meter dengan tinggi sekitar enam meter.

Ukiran kuno ini ditemukan Hanan Abdul Latif Lali Ehak (41) pada akhir Agustus 2017 lalu, tetapi rahasia ini baru dibukanya pada Minggu (4/3/2018) lalu.

“Waktu itu saya cari kambing yang nyasar menuju area dinding batu ini dan ternyata saat saya sibak ranting pohon, saya temukan ini,” kata Abdul.

Abdul mengaku sebelum menemukan ukiran batu ini dirinya sempat mendapatkan isyarat lewat mimpi. Namun dirinya merahasiakan hal tersebut. “Itu rahasia dan tidak bisa saya ungkapkan,” kata Abdul.

Hingga saat ini Abdul dan warga setempat belum mendapat petunjuk yang pasti tentang keberadaan ukiran kuno pada dinding batu tersebut.

“Belum ada tetapi sejak kecil memang kami dilarang orangtua kami untuk masuk ke area ini. Mereka tidak menjelaskan kepada kami kenapa tidak boleh bermain di tempat ini,” kata Abdul.

Namun menurutnya, dinding batu ini sudah dikeramatkan warga setempat sejak dahulu.

“Tempat ini sangat keramat sehingga kami juga tidak berani masuk ke sini. Bahkan​ menebang bambu di sekitar pun kami tidak berani,” terang Abdul.

Beberapa ukiran yang ditemukan tersebut di antaranya manusia yang sedang menari, manusia berekor seperti ular, tengkorak, perahu, dan anak tangga serta beberapa ukiran lainnya.

 
Penulis : Ambuga
Editor   : Erny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

3 + 6 =