Presiden Joko Widodo menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat 2018 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/3). Foto: Biro Pers Setpres

MORAL-POLITIK.COM – Mesranya hubungan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) meruncing pendapat pengamat politik.

Dilansir Tempo.co, pengamat politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi mengatakan, Partai Demokrat akan diuntungkan secara politik jika bergabung dengan koalisi pendukung Jokowi.

Muradi menyampaikan keuntungan yang dapat diperoleh oleh Demokrat. Pertama, kata dia, keuntungan di bidang logistik.

“Semua logistik ada di pemerintah bukan di oposisi, apalagi sampai netral,” kata dia saat ditemui di kawasan Tebet, Jakarta, Ahad, 11 Maret 2018.

Keuntungan kedua, yaitu karena Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY masih membutuhkan jam terbang yang lebih dari saat ini. AHY dinilai masih terlalu cepat untuk maju dalam pemilihan presiden 2019.

“Kalau dipaksakan sekarang itu (AHY) bukan cuma merusak internal (Partai) Demokrat, tapi juga merusak tatanan politik yang sudah ada,” kata Muradi

Muradi menilai hal tersebut akan menjadi bagian take off politik yang baik buat AHY di 2024. “Karena everyone happy. Orang tidak merasa kemudian menjadi merasa ditelikung dan sebagainya,” ujarnya.

Menurut Muradi, keuntungan-keuntungan tersebut dapat diperoleh Partai Demokrat dengan syarat, yaitu tidak adanya bargaining atau tawar menawar politik dari Partai Demokrat.

Hingga saat ini, Partai Demokrat belum menentukan sikap dalam pilpres 2019. Namun partai pimpinan SBY ini memastikan untuk mengusung capres dan cawapres. Dalam rapimnas yang digelar 10-11 Maret 2018, Partai Dmeokrat belum mengumumkan calon yang akan diusungnya.

 

 

Penulis   : Muhammad Hendartyo
Editor     : Ninis Chairunnisa, Athen
Sumber : Tempo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 + 1 =