Untung Sudrajad. (Foto: dok. untung sudrajad/moral-politik.com)

Oleh: Untung Sudrajad *)

MORAL-POLITIK.COM – Masalah kemiskinan, rawan pangan, gizi buruk, dan pengangguran, semua stigma tersebut begitu akrab dan melekat di telinga masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Ada kegeraman, kepedihan dan keputusasaan di situ, seolah-olah semua itu sudah menjadi nasib, sudah menjadi takdir sehingga orang sering memplesetkan singkatan NTT sebagai Nasib Tidak Tentu, sementara mereka yang religius mengatakan dengan cara lebih halus yaitu Nanti Tuhan Tolong, nanti, nanti tapi kapan?

Tapi tahukah anda bahwa sebagian masyarakat ada yang mengatakan bahwa NTT artinya adalah Nikmat Tiada Tara, sayang sebagian orang tersebut jumlahnya kecil bahkan sangat kecil apabila dibandingkan dengan jumlah keseluruhan masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Mereka ini terdiri dari sebagian kecil pengusaha, Pegawai Negeri Sipil, karyawan swasta, Petani dan sebagian kecil Nelayan. Pokoknya di semua lapisan masyarakat dan di semua sektor kehidupan ada beberapa orang yang mampu mensiasati keadaan dan mampu hidup lebih sejahtera dibandingkan kelompoknya.

Apabila kita amati, banyak orang sukses hidupnya dan kaya yang tadinya berasal dari keluarga miskin, berpendidikan rendah, fisiknya cacat dan sebagainya tetapi mereka mampu melepaskan diri dari banyak keterbatasan tersebut.

Marilah kita amati Negara Jepang, hanya sebagian kecil saja wilayah Jepang yang subur dan dapat ditanami, negara Jepang juga sering dilanda gempa dan labil, tetapi lihatlah sekarang, Jepang adalah bagaikan pabrik terapung terbesar di dunia, Jepang adalah raksasa industri. Negara Swiss adalah contoh lainnya. Negara ini tidak mempunyai lahan kakao, tetapi Swis adalah penghasil produk coklat yang disegani didunia dan juga mempunyai sistem perbankan yang sangat diakui keunggulannya.

Jika berbicara soal Sumber Daya Manusia, ada orang Nusa Tenggara Timur yang sukses dan sejahtera diluar daerahnya, jumlahnya sangat banyak dan susah untuk disebutkan satu persatu. Dimasa orde baru, Sumber Daya Manusia Nusa Tenggara Timur sangat disegani di kancah politik dan perekonomian nasional, hampir setiap periode pergantian Kabinet, selalu ada orang Nusa Tenggara Timur yang muncul dipermukaan sebagai Menteri atau bahkan Gubernur Bank Indonesia. Beberapa orang NTT juga menduduki jabatan penting sebagai akademisi, antara lain menjadi Rektor, Dekan atau Guru Besar di beberapa Perguruan Tinggi yang bonafide di pulau Jawa.

Pada waktu kita mengirim peserta untuk magang di Jepang, penyelenggara program magang dari Jepang tidak pernah complain tentang peserta dari Nusa Tenggara Timur. Di Jepang mereka mampu bekerja dengan baik dan bahkan memiliki disiplin, etos kerja dan produktivitas yang mampu menyamai orang Jepang.

Fenomena tersebut sangat menarik, karena ternyata lingkungan kerja yang dipenuhi dengan orang-orang yang beretos kerja, berdisiplin dan berproduktivitas tinggi ternyata menular dan saling mempengaruhi satu sama lain. Artinya perilaku dan kinerja seseorang ternyata dapat dibentuk dan bukan sekedar diwarisi dan yang sudah terlanjur melekat pada seseorangpun dapat dirubah atau diperbaiki.

Lalu faktor apakah yang membengaruhi perilaku dan kinerja seseorang? Menurut para pakar, yang mempengaruhi perilaku dan kinerja seseorang adalah pola pikir, kharakter dan sikap seseorang. Dimana pola pikir dan kharakter seseorang sangat dipengaruhi nilai-nilai dan norma-norma yang dianutnya, dan tentu saja adat istiadat, budaya, kebiasaan berperan sangat besar didalamnya.

Lalu bagaimana caranya untuk mulai merubah pola pikir dan mengembangkan karakter, sikap dan perilaku masyarakat yang produktif, apakah itu mungkin? Tentu sangat mungkin. Banyak hal yang bisa kita soroti dan kita diskusikan bersama cara perbaikannya, antara lain adalah: Pertama, masyarakat perlu belajar untuk keluar dari kotak berfikir (out of the box) yang dianut selama ini, atau lihatlah sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda. Seseorang yang baru saja Wisuda Sarjana begitu mudahnya mereka mengumpulkan dana untuk pesta wisuda melalui kumpul keluarga, jumlah dana yang dikeluarkan untuk pesta ini mungkin bisa Rp 3 – 5 juta. Tetapi begitu mereka mengikuti pelatihan kewirausahaan, begitu rumitnya mereka belajar untuk menyusun proposal rencana usaha demi memperoleh modal kerja dalam jumlah sekitar Rp 5 juta. Jika acara kumpul keluarga sebagai ritual wisuda tadi diubah bukan dalam rangka penyelenggaraan pesta tetapi untuk pengumpulan modal usaha, alangkah hebatnya. Ini adalah suatu potential asset kita.

Kedua, mendorong budaya hemat agar terwujud akumulasi modal ditangan masyarakat bawah. Salah satu kunci keberhasilan peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah belajar untuk menunda kesenangan dengan berhemat dan menabung. Seberapa besarpun pendapatan kita, kalau semuanya kita habiskan, maka kita tidak akan bertambah kaya. Menabung dan kemudian menginvestasikan tabungan kita pada kegiatan produktiv yang tepat, akan menjadi jalan untuk pengentasan kemiskinan masyarakat. Cara paling mudah untuk mulai mendorong masyarakat mulai berhemat adalah dengan mulai mengurangi budaya kumpul-kumpul, makan-makan, berpesta pora diberbagai momen kehidupan.

Ketiga, mendorong agar setiap warga masyarakat mulai belajar mengambil alih tanggung jawab atas kehidupan diri sendiri seratus persen ditangan diri sendiri. Ini bukannya egois dan bukannya mengajarkan individualisme, akan tetapi sikap kekerabatan yang terlalu kuat, membuat seseorang sangat tergantung kepada orang lain atau keluarga, kurang survive dan tidak mandiri. Kebiasaan membebankan kehidupan kita pada orang lain, membuat kita ketinggalan di belakang, hidup santai, tidak bertanggung jawab dan miskin. Bukan hanya kita yang miskin, tetapi keluarga yang kita bebanipun ikut menjadi miskin.

Keempat, otak dan pikiran kita harus selalu terbuka terhadap ide-ide baru dan pikiran orang lain dan trend yang terus bergerak. Artinya masyarakat perlu belajar untuk tidak anti terhadap perubahan dan mampu menyesuaikan diri terhadapnya bahkan seharusnya mampu menjadi bagian dari perubahan itu sendiiri. Semua orang mesti sadar bahwa tidak hanya mesin dan peralatan yang bisa menjadi aus, kedaluwarsa maupun ketinggalan zaman. Manusiapun bisa menjadi aus, kedaluwarsa dan ketinggalan zaman. Yang menjadi ketinggalan zaman tentunya bukan pribadi orangnya tetapi adalah pengetahuannya, pengalamannya, ketrampilannya dan mungkin nilai-nilai budaya yang dianutnya.

Kelima, berhenti mengeluh, mulai berfikir positif terhadap orang lain, berfikir positif terhadap masyarakat sekitar, dan berfikir positif terhadap pemerintah dan yang paling penting mulailah memulai kearah yang lebih baik. Dunia kita akhir-akhir ini dipenuhi dengan orang-orang yang suka mengeluh. Apabila kita melihat Televisi, mendengarkan Radio atau membaca Koran, maka mulai dari Pejabat, Politisi, Ekonom, Para Pakar, Pengamat ini dan itu sampai rakyat jelata, semua sibuk mengeluh dan menyebarkan energi negatifnya kepada masyarakat, dan akhirnya otak, pikiran dan hati masyarakatpun ikut menjadi keruh, gundah gulana, putus asa dan kehilangan semangat. Marilah kita mulai dari diri kita sendiri dan kalau bisa mulai mengajak orang disekeliling kita untuk mulai menyebarkan pikiran dan energy positif kita guna bergerak kearah yang lebih baik.

Keenam, kita harus mulai belajar menghargai diri sendiri dan orang lain. Semua orang selalu mempunyai talenta dan bakat masing-masing yang lebih dari pada orang lain, oleh karena itu rasa hormat pada diri sendiri dan orang lain perlu dijaga. Talenta pribadi memungkinkan kita menjadi pemenang dalam permainan, tetapi kerja tim yang solid memungkinkan kita menjadi juara sejati. Karena itu menggali bakat pribadi dan mensinergikan bakat kita dengan bakat orang lain, akan menjadi kunci keberhasilan pembangunan di daerah kita. Saling sibuk menjelekkan, menyalahkan, memfitnah dan menjegal orang lain selain menghabiskan energi, juga memancing energi negatif berupa perlawanan dari pihak lain dan ini betul – betul kontra produktif.

Ketujuh, masyarakat harus mulai belajar untuk menjalankan perilaku dan kebiasaan yang positif dan produktif seperti disiplin, menghargai waktu, mematuhi aturan hukum, kerja keras, kerjasama, hemat dan lain sebagainya. Sehingga secara perlahan, terbentuk suatu lingkungan masyarakat yang kondusif bagi pembangunan daerah.

Jika upaya pembangunan Nusa Tenggara Timur selama ini lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran para ekonom, politisi, teknokrat dan hasilnya ternyata belum optimal. Maka sudah selayaknya kita harus mulai melibatkan para pemikir dari disiplin ilmu lain, seperti Antropologi budaya, antropologi ekonomi, psikholog, sosiolog, tokoh agama, tokoh adat, budayawan dan lain-lain yang bergerak dibidang kejiwaan, kebudayaan, adat istiadat, kemasyarakatan dan sebagainya. Mereka inilah yang kita harapkan dapat membedah akar permasalahan dalam masyarakat dan sekaligus secara bersama – sama berusaha untuk memecahkan dan mengatasi permasalahan tersebut.

Adat istiadat, budaya dan kebiasaan masyarakat yang sangat tepat pada zamannya, mungkin menjadi kontra produktiv pada zaman sekarang, dan diperlukan suatu keberanian yang besar bagi para pengambil kebijakan menginventarisir hal-hal yang kontra produktiv dan merubahnya. Mau tidak mau kita harus terus berubah sesuai tuntutan zaman, karena kalau kita tidak berani berubah maka kita akan di gilas oleh perubahan zaman tersebut dan terus tertinggal dibelakang.

 

*) Penulis adalah warga Kota Kupang, tinggal di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Oebobo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

53 + = 58