Foto: Ambuga/Moral-politik.com

MORAL-POLITIK.COM – Para pelaku perdagangan orang (human trafficking) telah menggunakan ‘modus operandi’ terbaru dalam menjalankan aksinya.

Mereka mendapatkan beberapa korban, mengirimkannya ke beberapa kota di Indonesia, lalu membuatkan paspor sang korban di sana.

Hal ini diungkapkan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda NTT Kombes Yudi Sinlaeloe sewaktu melakukan jumpa pers di Markas Polda NTT, Kamis (15/3/2018).

“Modus operandi pelaku human trafficking sekarang sudah berubah. Mereka mendapatkan satu korban, dan proses pembuatan paspornya tidak mereka lakukan di sini,” kata Sinlaeloe.

Ia menerangkan, biasanya pembuatan dokumen dan paspor korban dilakukan di Jakarta, Surabaya, atau Blitar.

“Jika pelaku sudah mendapatkan seorang korban, mereka mengirimnya ke beberapa kota, misalnya Jakarta, Surabaya, atau Blitar. Mereka tidak langsung membuat dokumen atau paspor sang korban di sini. Sampai di beberapa kota itu, baru dibuatkan paspornya,” jelasnya.

Sinlaeloe mengatakan, para pelaku human trafficking sekarang lebih berhati-hati jika membuat paspor si korban di Kota Kupang.

“Dari Kota Kupang, korban biasanya berangkat sendiri-sendiri. Tujuannya ke Jakarta, Surabaya, Tangerang, atau di Batam. Di sana ada tempat penampungan. Di kota-kota itu baru dibuatkan paspornya. Dulu kita bisa lebih mudah mengawasi, karena mereka biasanya pergi bergerombol. Sekarang tidak lagi,” terangnya.

Dia menerangkan, modus operandi yang dilakukan para pelaku human trafficking ini mulai terungkap, sewaktu pihaknya melakukan penggeledahan di kantor imigrasi.

“Mereka (bagian imigrasi) kadang jarang melakukan pengecekan ke kantor dukcapil, apakah data yang ada itu benar atau tidak. Yang penting ada, mereka langsung proses paspornya. Padahal KTP itu palsu. Kalau pada saat awal itu langsung dicek, berarti tidak akan ribet dan menimbulkan masalah. Untuk itu, kantor imigrasi sekarang harus lebih perketat pelayanannya,” tegasnya.

Untuk itu, Sinlaeloe mengharapkan kerja sama dari semua pihak untuk bisa memberikan pencegahan terhadap kasus human trafficking ini.

“Tugas pencegahan menjadi tugas kita semua. Selama ini kami yang berada di hilirnya. Di hulunya tidak pernah berjalan dengan baik. Untuk itu diperlukan kepaduan kerja oleh semua pihak,” tegasnya.

 

Penulis : Ambuga
Editor   : Erny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

30 − 27 =