Foto: Ambuga/Moral-politik.com

MORAL-POLITIK.COM – Dua orang tersangka yang terlibat dalam kasus perdagangan orang (human trafficking) di tangkap aparat Polda Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dua orang tersangka itu berinisial TM (39) warga Kecamatan Maulafa, Kota Kupang dan PB (41) warga Kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ditangkap langsung oleh aparat Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda NTT.

Tersangka TM ditangkap pada Senin (12/3/2018) di daerah Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Sedangkan PB ditangkap Selasa (13/3/2018) di Kecamatan Amanatun Utara, TTS.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda NTT Kombes Yudi Sinlaeloe mengatakan, dalam kasus ‘human trafficking’ ini, yang menjadi korban adalah Mariance Kabu (34), mantan TKI yang bekerja di Malaysia.

Mariance telah menjadi TKI di Malaysia sejak tahun 2014, dan di sana dia mendapat penyiksaan dari majikannya.

“Pada tanggal 5 April 2014 sekitar pukul 22.00 WITA, terjadi tindak pidana perdagangan orang. Korbannya Mariance Kabu. Dengan tersangka tiga orang yakni TM, PB, dan AT. Sedangkan AT kini masih dalam buronan,” kata Sinlaeloe dalam keterangan pers di Markas Polda NTT, Kamis (15/3/2018).

Ia mengatakan, Mariance Kabu direkrut oleh AT dan PB dari kampung halamannya di Kecamatan Amanatun Utara, TTS, pada 5 April 2014.

Saat direkrut, sambungnya, Mariance tidak membawa dokumen dirinya. Perekrutan ini juga tanpa sepengetahuan orangtua dan suami dari korban.

“Pada tanggal 6 April 2014, AT dan PB membawa Mariance ke Kota Kupang dengan menumpangi bus. Ini tanpa sepengetahuan orangtua dan suami si korban,” kisah Sinlaeloe.

Setelah tiba di Kota Kupang, dua pelaku itu menyerahkan Mariance ke TM. Kedua pelaku pun mendapat imbalan berupa uang dari TM.

“Pelaku TM kemudian membawa Mariance ke salah satu Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) dan di tampung selama dua malam,” jelas Sinlaeloe.

Setelah itu, kisahnya, TM menjemput Mariance dan mengirimnya ke Malaysia untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Saat bekerja di Malaysia, Mariance dianiaya oleh majikannya hingga menderita luka berat. Mariance lantas dipulangkan ke Indonesia pada 25 November 2016.

Ketika di Kota Kupang, Mariance kemudian didampingi Pendeta Marieta Naomi Gerdina Sahertian untuk melapor ke Polda NTT.

“Dua tersangka telah ditangkap dan seorang lagi masih dalam buronan. Mereka dijerat Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara,” ungkap Sinlaeloe.

Menurut keterangannya, Mariance mengaku selama enam bulan disiksa secara sadis oleh majikannya di Malaysia.

Dia dipaksa meminum air urine sendiri. Lebih sadis lagi, organ vital korban dirusak oleh majikan perempuan dengan ditusuk pakai benda tumpul.

 

Penulis : Ambuga
Editor   : Erny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

73 + = 77