Ilustrasi. (Foto: Medanbagus.com/Moral-politik.com)

MORAL-POLITIK.COM – Milka Boimau, warga RT 18, RW 09, Kelurahan Nonbes, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia di Malaysia.

Dia adalah salah seorang TKI yang dipulangkan dalam kondisi tak bernyawa lagi.

Sewaktu jenasahnya dipulangkan melalui Bandara El Tari Kupang, Minggu (13/3/2018), ditemukan jahitan besar memanjang dari perut hingga leher korban.

“Di bagian luar tidak utuh jangan sampai di bagian dalam juga tidak utuh. Kami minta majikan dan kedutaan RI di Malaysia untuk menjelaskan kondisi korban seperti ini,” ujar adik kandung korban, Agustinus Boimau kepada wartawan di Kota Kupang, Minggu (11/3/2018).

Dia menuturkan, sejak diberangkatkan pada 2012 silam, adik kandungnya itu baru berkomunikasi dengan keluarga pada Kamis (7/3/2018). Saat itu, Milka mengutarakan keinginannya untuk pulang ke kampung. Lewat sambungan telepon, Milka juga sempat bertanya kondisi orangtua dan keluarga lainnya.

“Dia sempat bertanya apa masih diterima keluarga kalau pulang, karena tidak ada keluarga yang tahu saat dia diberangkatkan ke Malaysia pada 2012,” katanya.

Dalam pembicaraan itu kata Agus, terdengar suara korban meminta tolong seseorang untuk membesarkan volume suara telepon genggam.

Orang itu pun menjawab menggunakan bahasa melayu yang kedengarannya tidak menyukai pembicaraan antara korban dan keluarga. Saat itu juga sambungan telepon langsung diputuskan.

Sepuluh menit kemudian, korban kembali menelpon menggunakan nomor yang sama dan membahas terkait kepulangannya serta surat-suratnya yang sudah mati.

“Dia sempat cerita bahwa agen yang memberangkatkannya telah menawarkan untuk mengurus surat-suratnya, namun ditolaknya karena dia mau pulang,” jelasnya.

Saat sedang berbicara, menurut Agus, tiba-tiba korban terdiam lalu handphonenya dimatikan lagi. Selang beberapa menit, ada panggilan masuk namun yang berbicara bukan lagi korban tetapi seseorang yang mengaku Polisi Malaysia bernama Usman.

“Pak Usman ini mengaku ke saya dia seorang polisi yang tempat tugasnya dekat dengan tempat kerja korban. Dia lalu menanyakan nama saya, dan juga status saya dan hubungan saya dengan korban. Saya mengatakan bahwa korban Milka Boimau adalah kakak kandung saya,” ungkapnya.

Usai menanyakan hubungan dirinya dan korban, lanjut Agus, orang yang mengaku polisi bernama Usman ini tiba-tiba mengabarkan jika Milka sudah meninggal dunia.

Antara percaya dan tidak, Agus lalu menanyakan bagaimana mungkin kakaknya meninggal, karena baru beberapa menit yang lalu Ia berkomunikasi dengan korban.

“Pertanyaan saya tidak dijawab Polisi Usman. Dia hanya mengatakan akan membawa korban ke hospital (Rumah Sakit),” tuturnya.

Setelah dari rumah sakit, Usman mengabarkan bahwa korban meninggal akibat sakit paru-paru dan meminta dirinya segera mengirim alamat keluarga agar jenazah Milka segera dipulangkan.

“Saya menolak beri alamat, saya meminta majikan korban bernama Can untuk melaporkan dulu ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia,” kata Agus.

15 menit kemudian, keluarga kembali menelepon. Orang yang mengangkat telepon mengaku bermama Aris dari kedutaan RI. Dengan menggunakan bahasa Indonesia, Aris mengatakan mendapat laporan dari majikan korban bahwa TKW atas nama Milka Boimau sudah meninggal dunia dan pihak kedutaan segera turun ke TKP untuk melakukan identifikasi.

Setelah berkomunikasi dengan orang bernama Aris, pihak keluarga tidak lagi mendapatkan informasi. Hingga keesokan hari, keluarga mencari informasi sendiri tanpa bantuan dari pihak majikan atau kedutaan. Informasi pun berkembang dan pihak keluarga melaporkan ke BP3TKI NTT sampai akhirnya jenazah korban dipulangkan ke kampung halamannya, Minggu (11/3/2018).

Dia berharap pihak BP3TKI segera mengusut PJTKI yang memberangkatkan korban dan juga penyebab kematian korban.

“Sebagai keluarga kami hanya minta penjelasan dari majikan soal kematian dan jahitan di tubuh korban,” pungkas Agus.

 

 

Penulis : Ambuga
Editor   : Erny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

− 1 = 3