Y.P. Loleck Mae.

 

Oleh: Y.P. Loleck Mae *)

MORAL-POLITIK.COM – Istilah literasi mungkin sering digunakan banyak orang. Tetapi banyak orang juga yang tidak mengerti apa makna literasi yang sebenarnya.

Memang literasi merupakan sebuah konsep yang memiliki makna yang kompleks, dinamis dan ditafsirkan juga dengan beragam cara dan sudut pandang masing-masing.

Literasi dalam pemahaman keseharian adalah kemampuan menulis dan membaca, tetapi ada pula istilah literasi dalam bahasa latin yang disebut sebagai literatus yang artinya adalah seorang yang belajar.

Menurut Education Development Center (EDC), literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam kehidupan.

Dilihat dari definisi di atas berarti literasi mencakup kemampuan baca kata dan membaca dunia.

Sedangkan menurut NAeyc (1998) literasi berarti suatu kegiatan yang mampu mendorong anak-anak berkembang sebagai pembaca dan penulis sehingga hal ini sangat membutuhkan interaksi dengan seseorang.

Lebih lanjut, di tahun 2003 Cordon mengungkapkan definisi literasi sebagai sumber ilmu yang menyenangkan yang mampu membangun imajinasi untuk menjelajah dunia dan ilmu pengetahuan.

Jika dilihat dari beberapa pengertian di atas, maka literasi berkaitan dengan kegiatan membaca dan menulis. Sebagai makhluk berpikir yang haus akan pengetahuan, maka literasi begitu penting dalam kehidupan manusia, terutama manusia-manusia yang hidup di tengah gempuran globalisasi yang diwarnai dengan kecanggihan teknologi saat ini.

Literasi sangat diperlukan dalam segala lini kehidupan manusia, karena kemampuan literasi ini bisa menjadi kunci bagi manusia untuk berproses menjadi manusia yang lebih berpengetahuan dan berperadaban.

Penyebab Hilangnya Budaya literasi
Pesatnya perkembangan arus teknologi dewasa ini, berdampak pada semakin tersingkirnya budaya literasi baik di dunia akademik, maupun di masyarakat pada umumnya. Harus diakui bahwa kemajuan teknologi telah menciptakan kepanikan yang serius akan hilangnya budaya literasi di tengah masyarakat Indonesia.

Ada beberapa hal yang menyebabkan hilangnya kemampuan literasi dewasa ini, antara lain; pertama, banyak orang berpandangan bahwa dunia membaca itu merupakan sebuah hoby dan bukannya kewajiban.

Pandangan ini secara langsung telah menciptakan pemahaman yang keliru kepada masyarakat. Artinya, masyarakat tidak lagi melihat budaya literasi sebagai salah satu cara memperkaya wawasan tetapi lebih sebagai hoby individu yang tidak terlalu penting untuk dibudidayakan.

Kedua, budaya menonton masih sangat tinggi;

Ketiga, kurangnya kebiasaan membaca buku dan karena keenakan di internet;

Keempat, pola asu orang tua terhadap anak usia dini berkurang karena kesibukan kerja; dan;

Kelima, kurangnya motivasi untuk membaca di rumah atau lingkungan sekitar.

Selain itu, banyak orang telah dininabobokan oleh pesatnya kemajuan teknologi, dimana setiap orang bisa membaca dan menulis sesuka hati tanpa harus membaca buku tetapi melalui online.

Masyarakat hari ini secara khusus kaum muda telah dimanjakan oleh dunia online. Dunia online membuat jarak antara masyarakat semakin sempit.

Setiap peristiwa yang terjadi di belahan bumi lain akan mudah diakses secara online. Dalam se-kali klik, semua orang bisa mengetahui peristiwa dan persoalan yang sedang terjadi di tempat lain. Persoalan ini sesunggunya telah melahirkan kemandulan daya kritis dan cacat berpikir logis.

Rujukan mejuju Budaya Literasi
Berbagai macam persoalan di atas sebenarnya mencolek kesadaran kita untuk tidak mudah amnesia terhadap budaya literasi yang telah melahirkan kaum intelektual di negeri ini. Maka gerakan untuk meningkatkan kemampuan literasi kepada masyarakat terutama generasi penerus bangsa ini hendaknya diwujudnyatakan dalam bentuk membangun taman baca.

Membangun taman baca merupakan cara yang tepat dalam membangkitkan semangat membaca masyarakat terutama di desa yang masih jauh dari akses komunikasi dan informasi. Di tengah ramainya semangat membangun budaya literasi dewasa ini, pembangunan dan pengembangan taman baca hendaknya menjadi perhatian serius baik pemerintah maupan masyarakat yang peduli dengan dunia literasi.

Kita patut berbangga, Karena selain istilah taman baca yang semakin tenar saat ini, ada juga istilah lain yang sedang bermunculan seperti perpustakaan komunitas, rumah baca, serambi, baca, ruang baca, pondok baca, warung baca, dan lain sebagainya. Ini pertanda bahwa masyarakat memiliki semangat membangkitkan kembali budaya literasi.

Berbagai macam istilah di atas sebenarnya merujuk pada suatu aktivitas yang sama, yaitu upaya dari para pegiat literasi untuk menyediakan bahan bacaan atau tulisan, tempat belajar, tempat bermain dan tempat mengembangkan bakat dan pikiran bagi masyarakat terutama manusia sekolah.

Berbagai istilah atau nama tersebut juga di rangkum oleh pmerintahan menjadi satu dengan nama TAMAN BACA MASYARAKAT. Ini merupakan bagian dari kebangkitan semangat literasi yang berujuan untuk meningkatkan kualitas wawasan masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman. Mari membaca bukan karena hoby, tetapi karena ingin bebas dari cengkraman kedunguan berpikir kritis.

 

*) Penulis adalah Aktivis Jalanan Ibukota, tinggal di Maumere, Kabupaten Sikka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

− 1 = 2