Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com

 

MORAL-POLITIK.COM – Perayaan Kamis Putih umat Katolik merupakan perayaan mengenang kembali kerendahan hati dan pengorbanan Yesus dalam membasuh kaki murid-murid-Nya.

Perayaan ini lebih dikenal sebagai Perjamuan Terakhir, momen Yesus secara simbolis mengurbankan tubuh dan darah-Nya bagi umat manusia.

Pada perayaan ini, terjadi sebuah perdebatan di antara para murid-murid Yesus. Perdebatan ini, ini oleh orang Kristiani lebih familiar dikenal sebagai debat memperebutkan siapa yang paling besar di antara para murid Yesus.

“Pada waktu itu para murid sedang memperdebatkan siapa yang paling besar di antara mereka. Bahkan Yohanes dan Yakobus sedang membujuk ibu mereka agar bisa mendapatkan posisi di kiri dan kanan dalam kerajaan surga nanti,” kata Pater Yulius Yasinto dalam khotbahnya di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang, Kota Kupang, Kamis (29/3/2018).

Yulius mengatakan, Yesus menjawab perdebatan para murid dengan memberikan contoh nyata. Yesus merendahkan diri-Nya, menyamakan diri seperti seorang hamba.

“Walaupun Yesus adalah Tuhan, namun Dia merelakan diri setara dengan seorang hamba. Yesus berlutut, melilit kain, menuang air dan membasuh kaki para murid-Nya,” seru Yulius.

Dalam tradisi Yahudi, menurut Yulius, hamba adalah orang yang dibeli. Hamba melakukan hal-hal hina untuk tuannya, dan menyerahkan diri untuk tuannya.

“Yesus menyerahkan dirinya untuk manusia. Ukurannya adalah penyerahan diri seutuhnya demi keselamatan manusia. ‘Inilah tubuh-Ku yang dikorbankan bagi semua orang. Inilah darah-Ku darah perjanjian baru’. Lakukan ini untuk mengenangkan Aku,” sambung Yulius di hadapan ribuan umat Kristiani.

Rasul Paulus, lanjutnya, mengingatkan kita semua, bahwa peristiwa inilah yang kita kenangankan selalu dalam perayaan Ekaristi. Yesus memperlakukan dirinya seperti domba paskah yang dilakukan orang-orang Israel di Mesir waktu itu.

“Yesus mengorbankan dirinya seperti domba paskah yang dikurbankan sewaktu di Mesir. Darah domba itu ditandai pada pintu tiap rumah orang Israel, dan dengan itu mereka diselamatkan,” jelasnya.

“Mungkin inilah perayaan paling mulia sekaligus paling sulit yang dilakukan seorang pelayan. Kita cenderung menjadikan diri kita penguasa. Banyak orang menempatkan diri dalam kewibawaan dan kekuasaan di atas segala-galanya,” sambungnya.

Mantan Rektor Unika Kupang itu menambahkan, manusia kadang mengejar kekuasaan dan menjadikan dirinya lebih tinggi dari yang lainnya.

“Kita kadang merasa terlalu terhormat untuk melakukan perbuatan sederhana dan rendah dalam pandangan umum. Kita kadang merasa terlalu penting untuk menjalankan pekerjaan dan perbuatan yang biasa-biasa saja. Banyak orang yang berpegang erat pada harga dirinya,” terangnya.

“Kita kadang marah karena tidak diperlakukan sesuai jabatan kita dan menginginkan tempat terdepan dalam perhelatan umum. Kita mencak-mencak karena gelar akademik kita salah disebut atau ditulis,” imbuhnya.

Dalam keseharian, Yulius mengatakan kadang manusia merasa diri paling sibuk dari yang lainnya, sehingga kurang menghargai orang lain.

“Mungkin kita juga selalu memotong antrian dalam pelayanan publik. Karena merasa diri lebih penting, lebih sibuk, punya waktu kurang, karena itu harus diperlakukan secara istimewa,” tuturnya.

“Bukankan kita juga sering menolak posisi kecil dalam perayaan besar? Atau, bahkam merasa punya suara lebih bagus, dan merasa terlalu hebat untuk bernyanyi dalam perayaan yang biasa-biasa saja. Semua ingin memperoleh kebesaran. Kalau kita merasa terlalu besar dalam hidup ini, bagaimana dengan Yesus yang berlutut, melilit kain, menuang air dan membasuh kaki para muridnya?” tanyanya.

 
Penulis : Ambuga
Editor   : Erny

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

− 6 = 4