Pdt. Heindrich Fanggidae. (Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com)

 

Oleh: V.J. Boekan

MORAL-POLITIK.COM – Ibadat Paskah 2018 di Jemaat GMIT Betlehem Oesapa Barat, Kota Kupang dipimpin oleh Pdt. Mery Patikawa, dan Pdt. Heindrich Fanggidae.

Acara menyambut Paskah di gereja ini telah berlangsung mulai pukul 00.00 WITA, pada pukul 05.00 dilanjutkan dengan acara Tablo oleh jemaat muda setempat, dan 30 menit kemudian dilanjutkan dengan ibadat.

Pdt. Mery Patikawa tampil duluan untuk menyapa umat dengan doa.

“Bapa yang maha baik, karuniakanlah kepada kami hikmat yang daripada-Mu agar kami dapat memahami maksud Tuhan melalui firman yang akan kami dengarkan. Berfirmanlah karena kami siap untuk mendengarkan. Amin,” katanya.

Pdt. Mery Patikawa

 

Firman Tuhan terambil dari Markus 16: 1-8.

“Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut. Selamat merayakan Paskah,” kata Pdt. Heindrich Fanggidae mengawali khotbahnya.

Pendeta yang terkenal dengan gaya flamboyan dan bersuara keras ini melanjutkan, rasa-rasanya kali ini perayaan kita agak special. Kenapa? Karena apa yang kita alami sekarang merupakan ujung dari proses panjang, yang sudah dimulai dari jam 00.00 tadi malam, dan itu mengikutkan bilangan besar dari jemaat kita.

Proses yang panjang seperti itu, sambungnya, pada satu sisi akan membawa kita pada penghayatan yang sungguh-sungguh tentang makna dari kesengsaraan Tuhan, kematian-Nya, teristimewa kebangkitan-Nya.

Pada bagian yang lain, dirinya merasa diingatkan agar jangan khotbah panjang-panjang, karena rata-rata kita semua masih mengantuk. Apalagi pada saat ini kita memulai sesuatu yang lain. Ini karena kita bersuka cita karena kebenaran tidak pernah dapat dibungkamkan. Kita bersuka cita karena kasih Allah tidak pernah kalah dari keangkaramurkaan. Kita harus bersuka cita karena kita bukan orang-orang yang kalah. Atau dengan ungkapan yang berbeda, kita sesungguhnya tidak mesti menjadi orang-orang kalah.

Ia mengingatkan, kadang-kadang dalam hidup ini kita pesismis karena ada batu besar, batu sandungan, karena ada persoalan besar yang kita hadapi.

“Ada sekelompok ibu-ibu ingin ke kubur untuk meminyaki atau menaruh rempah-rempah di jenazah Yesus. Tapi kemudian menjadi pesismis, siapakah yang akan menggulingkan batu besar itu? Kristus yang mereka andalkan telah menjadi Kristus yang mati. Karena itu mereka tidak punya daya lagi untuk menggulingkan batu,” ingatnya.

Dalam bacaan injil, ucap dia, ketika mereka sampai ke kubur, batu besar, hambatan besar, dimana mereka menjadi pesimis untuk berjumpa dengan Yesus telah bergeser. Ketakutan akan ada kendala untuk berjumpa dengan Yesus menjadi sirna.

Walaupun dalam ayat ke-8 mereka melihat kubur itu kosong tapi toh mereka juga masih takut, tambahnya, dan karena itu tidak ingin omong apa-apa, kepada siapapun karena takut itu. Kenapa mereka takut untuk bicara tentang Kristus yang bangkit? Mereka takut untuk bicara tentang kubur yang kosong, bahkan takut untuk bicara bahwa Allah sedang melakukan sesuatu dengan mereka.

Karena ketakutan, sebut dia, secara psikologi itu kuat. Mereka baru menyaksikan bahwa orang yang mereka anggap akan menghadirkan harapan baru telah tumbang. Kristus yang memberi makan 5.000 orang, yang menyembuhkan orang-orang sakit, membuat orang-orang tak berdaya menjadi bersemangat. Jangan cari soal, jangan-jangan nanti kita dianggap sebagai orang-orang yang menyebarkan berita hoax. Jangan-jangan kita dianggap sebagai orang-orang yang mengadu domba, bahwa Ia sudah mati tapi kita bilang sudah hidup. Maka mereka memilih untuk berdiam diri.

Ia melanjutkan, ketakutan para murid itu sangat beralasan karena mereka sangat traumatik, mereka punya pengalaman sangat buruk karena harus mengobati luka-luka hatinya. Mereka tidak ingin mencari masalah baru bahwa telah menyaksikan kebangkitan Kristus.

Ada banyak alasan yang senantiasa membuat kita menjadi takut, kehilangan keberanian, lebih baik berdiam diri dibandingkan dengan bersuara atau memerjuangkan sesuatu.

“Alasan-alasan itu karena mungkin kita tak ingin hidup menjadi tidak nyaman, atau kalau bicara terus terang akan mengganggu kenyamanan orang lain, kita tidak ingin punya musuh baru, karena itu kita tidak ingin bicara tentang kebenaran. Kita takut jangan-jangan nasi yang ada di piring kita akan tumpah. Jangan-jangan kita akan dipanggil lalu ditegur oleh pimpinan.
Kita tidak ingin mengatakan sesuatu yang berbeda yang terjadi dalam kehidupan kemasyarakatan, dank arena itu kita menyaksikan geraja menjadi gereja yang kehilangan roh hanya karena gereja ingin ada dalam kenyamanan,” ingatnya.

Mantan Ketua Jemaat Gereja Ebenhaezer Oeba ini menuturkan, fakta atau kuasa tentang kebangkitan Kristus membawa para murid pada suatu keadaan yang berbeda, bahwa mereka takut dengan batu besar itu, tapi kenyataannya telah berbeda. Kubur yang dipakai untuk menutup kebenaran, Allah telah membukanya untuk mengatakan kebenaran tidak akan pernah dikalahkan. Karena itu orang-orang percaya, tidak ada alasan bagi kita untuk takut.

“Tuhan kita sudah bangkit. Tuhan kita telah keluar sebagai pemenang dari kuasa maut. Tuhan kita menyampaikan pesan sangat kuat bahwa bersama-sama dengan Kristus kita akan menjadi orang-orang yang diberkati. Apapun yang kita hadapi, kita akan menjadi orang-orang menang,” tegas dia.

Bagian ini, yakin dia, akan membangkitkan optimisme bahwa bersama-sama dengan Kristus kita dapat melakukan hal-hal yang berharga, yang bermanfaat tanpa rasa takut. Kita akan dapat menyuarakan kehendak Tuhan tanpa berpikir jangan-jangan begini, jangan-jangan begitu.

Semangat kebangkitan Kristus, sambung dia, membebaskan kita dari rasa ketakutan-ketakutan. Tuhan membebaskan kita dari kuasa kematian, membebaskan kita dari belenggu kubur. Ia yang muncul sebagai Kristus yang bangkit, akan menjadi Kristus yang bersama-sama dalam kesulitan-kesulitan kita.

“Selamat Paskah. Selamat merayakan kebangkitan Tuhan. Kebangkitan Tuhan semestinya mendorong kita untuk jangan takut bicara tentang kebenaran. Dan kebenaran Tuhan tidak pernah akan menjadi sesuatu yang sia-sia!” pungkas dia sangat yakin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

41 + = 49