Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli setibanya di gedung KPK untuk diperiksa oleh penyidik terkait kasus korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), Jakarta, 2 Mei 2017. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

 

MORAL-POLITIK.COM – Persoalan utang luar negeri kembali menjadi sorotan ekonom senior Indonesia, Rizal Ramli.

Tempo.co melansir, senior Rizal Ramli pada Jumat lalu mengunggah status mengenai utang di halaman Facebook miliknya.

Dia menuliskan tanggapannya soal utang luar negeri, yang sempat dibicarakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

“Sudah lampu kuning. Sudah gali lubang, tutup jurang,” ujar Rizal Ramli seperti dikutip dari status Facebook-nya, Jumat, 6 April 2018.

“Karena primary balance negatif, debt service ratio sudah 39 persen, tax ratio hanya 10 persen, karena pengelolaan fiskal tidak prudent (ugal-ugalan).”

Rizal Ramli yang merupakan mantan Menteri Keuangan dan mantan Menteri Koordinator Perekonomian juga menyebutkan indikator perdagangan dan jasa serta neraca berjalan semuanya negatif.

“Di samping faktor US Fed Rate, itulah salah alasan utama kenapa kurs Rupiah terus anjlok! Kok bisa ngaku-ngaku kelola makro ekonomi hati-hati (prudent) ?? Bokis amat,” katanya.

Atas tulisannya tersebut, status Rizal Ramli disukai oleh 6.231 orang dan 3.277 kali dibagikan oleh pengguna Facebook. Hingga saat ini, status tersebut masih aktif ditanggapi oleh warganet.

Tak hanya kali ini Rizal Ramli mengkritik soal utang pemerintah. Ia sebelumnya juga menyebut tidak tepat jika Bank Indonesia (BI) kerap melakukan perbandingan rasio utang pemerintah dengan produk domestik bruto (Debt to GDP Ratio) Indonesia dengan Amerika Serikat (AS).

Menurut Rizal Ramli, perbandingan itu sangat tidak proporsional dan dapat memberikan pemahaman yang keliru.

“Debt to GDP Indonesia yang sebesar 29 persen tidak bisa dibandingkan dengan AS. Amerika Serikat adalah negara satu-satunya di dunia yang dapat memproduksi dolar AS dan menjualnya ke negara lain. Sementara Indonesia apakah bisa melakukan itu dengan rupiahnya?” ujarnya dalam rapat dengar pendapat di Komisi XI DPR, Jakarta, akhir Maret lalu.

Atas status Rizal Ramli teranyar itu, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti menanggapi melalui status Facebook pribadinya.

“Untuk kesekian kalinya, saya menjawab apa yang disampaikan oleh Pak Rizal Ramli (Pak RR) dengan utang,” kata dia Sabtu malam, 7 April 2018.

Nufransa mempertanyakan lampu kuning yang diberikan Rizal Ramli. Sebab, jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia memiliki rasio untang tergadap PDB dan defisit APBN yang relatif kecil dan berati-hati.

“Mengapa menolak menggunakan indikator yang digunakan untuk membandingkan antar negara?” kata Nufransa.

Istilah gali lubang tutup jurang yang dituliskan Rizal Ramli juga dipertanyakan karena pemerintah telah menurunkan defisit APBN. Bahkan sejak sejak 2012, kata Nufransa, pemerintah sudah mengalami defisit keseimbangan primer. Ia malah balik menyindir Rizal Ramli yang merupakan bagian dari pemerintah di 2015-2016, yang keseimbangan primer perekonomiannya mengalami defisit tinggi.

Menurut Nufransa, sejak dikukuhkan sebagai Menteri Keuangan pada 2016 lalu, Sri Mulyani mengendalikan tren tersebut dengan hati-hati.

“Dengan demikian dalam beberapa tahun ke depan diproyeksikan defisit akan makin mengecil dan primary balance akan makin seimbang atau bahkan mencapai surplus,” tuturnya menanggapi kritik Rizal Ramli soal utang tersebut.

 

 

Penulis   : Chitra Paramaesti
Editor     : Rr. Ariyani Yakti Widyastuti, Erny
Sumber  : Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + 3 =