Gereja GMIT Betlehem Oesapa Barat. (Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com)

 

Oleh: V.J. Boekan *)

MORAL-POLITIK.COM – Pagi ini sangat luar biasa. Ada sesuatu yang bakal lain dari lain di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), tepatnya Gereja Betlehem Oesapa Barat.

Tak seperti biasanya, aku terjaga dari tidur lelap pada pukul 03.00 WITA, mungkin bersamaan dengan bangkitnya Yesus Kristus dari alam maut.

Setelah mengasoh belasan detik, aku tidur lagi. Sebab janjiku untuk meliput dan menulis Kebaktian Paskah di Gereja GMIT Betlehem Oesapa Barat dengan ketua majelis jemaatnya, Pdt. Heindrich Fanggidae pada pukul 05.00 WITA.

Setidaknya masih ada waktu 1 jam untuk beradu lelap dengan mimpi; siapa tau Yesus sudi bangkit kembali di rumahku, di bilangan Jl. Nangka No. 77 Kelurahan Oeba, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, Nusa Tengara Timur (NTT). Hahahaha, pede amat.

Sia-sia. Malah yang datang istriku. Dia membangunkan dari tidur. “Bangun, bangun, bangun. Ibadat di Gereja Benyamin sudah di mulai!!” katanya.

Tanpa pingin merajuk, aku mengucak-ngucak mata, melompat dari tempat tidur menuju ke meja makan. Hmmmm, kopi Manggarai Timur panas-panas telah tersedia di gelas Max Coffe. Kuteguk sekali, mengeluarkan sebatang rokok, menyalakan, menarik asapnya dalam-dalam, menghembuskannya untuk membentuk formasi bulat telur.

“Wow, kerennya,” gumamku dalam hati.

Lima menit waktu kuhabiskan untuk manjakan diri, sembari mencari inspirasi apa yang unik untuk di tulis.

Menulis sesuatu yang biasa sering kulakukan. Tapi yang unik sangat tergantung dari acara atau obyek yang di lihat.

Aku yakin ada di Gereja Benyamin. Secepatnya aku mengayuhkan langkah ke kamar mandi. Butuh waktu bersih-bersih sekitar empat menit. Ayahku sering wanti-wanti, berlama-lama  mandi pertanda orang malas, tak punya masa depan, tak punya mimpi indah, dan jauh dari cita-cita perjuangan gereja dan tanah air.

Persoalan baru yang sontak muncul terletak pada pakaian yang disiapkan sang istri. Pesanku dua hari yang lalu, aku ingin ngejeans, hem putih, sepatu kickers. Eeee, yang disiapkan celana formal berwarna hitam.

“Mama ni gimana sih? Kemarin kan aku bilang mau ngejeans. Aku pingin santai, bosan dengan formal-formalan. Kalau nggak ngejeans, aku kembali tidur. Intinya aku ke Gereja Benyamin untuk menulis, selain ikut kebaktian; tentunya,” gerutuku kalem agar tak terjadi debat kusir di hari bahagia ini.

Dengan sedikit helaan napas kesal, jeans pun disiapkan; empat menit sudah kelar.

Aku menghadiahkan jempol kanan sembari menyunggingkan senyum terindah. Dia menatapku tawar. Bisa dimaklumi, ini kehebatanku bisa pecahkan rekor pergi ke gereja pakai jeans. Dan aku semakin bangga dengan diriku sendiri, walau hanya dalam hati. Hahahahahahaha.

Usai berpakaian, aku berlari kecil menuju mobil. Kamera, segelas kopi dan rokok telah disiapkan di tempat khusus. Sembari mengucapkan selamat Pesta Paskah, aku menghidupkan mesin mobil, semenit kemudian memasukan gigi, lalu menekan gas perlahan-lahan.

Hanya butuh waktu 10 menit aku belok masuk ke kawasan gereja. Ada tujuh pemuda sedang berjalan santai. Kutanyai dimana letak Gereja Benyamin. Jawaban mereka sungguh mengejutkan.

“Di sini tak ada Gereja Benyamin. Yang ada Gereja Betlehem,” kata seorang dari mereka.

Akupun sadar telah salah menginformasikan kepada istri bahwa acara tablo dan ibadat di Gereja Benyamin. Mestinya Gereja Betlehem.

“Ya, aku mau ke Betlehem,” kataku singkat.

Kulihat mereka tersenyum agak lucu. Aku buru-buru sadar telah salah ucap. Mestinya lengkap, Gereja Betlehem. Sebab kalau ke Betlehem berarti di Israel, tempat Yesus di lahirkan.

Tablo

Kuakui datang sedikit terlambat. Setidaknya tablo sudah dimulai lima menit yang lalu. Sedikit tergesa-gesa aku hidupkan HP untuk merekam, mengayuhkan langkah menuju ke depan mimbar agar bisa memandang, merekam, dan memotret dengan lebih baik lagi.

Sound system yang disiapkan panitia keren banget, suaranya besar dan jernih.

“Pak Pendeta Fanggidae memang keren,” gumam batinku.

Mataku menatap kagum lebih dari seribu umat, tua muda, laki-laki dan perempuan duduk kusuk mendengarkan kata demi kata yang keluar dari seorang wanita cantik dan pemuda ganteng pementas tablo. Sementara ada tiga wanita seksi mengenakan pakaian tenun ikat duduk menyaksikan jalannya tablo.

Tablo yang mengambil tema kebenaran ini pada intinya mengangkat tentang pola perilaku manusia yang enggan memerjuangkan kebenaran.

“Adakah Allah yang pada kenyataannya memalingkan wajah-Nya dari mereka yang bergulat untuk menegakkan kebenaran? Haruskah kita menyembunyikan wajah ini sebagai tanda kita adalah orang-orang kalah yang sedang bergulat, yang ketakutan?” ungkap pemain tablo laki-laki.

“Dengarlah wahai mereka yang di rundung kepedihan dan duka, karena kematian sang Juru Selamat. Kristus yang mati telah dibangkitkan. Tentu di ujung duka…kesaksian ini ingin kudengungkan. Mereka mencari Tuhan berjumpa kubur kosong,” sambung seorang wanita cantik berusia sekitar 20 tahun, dalam iringan musik seorang organis wanita.

Malaikat Tuhan berujar, sambung dia. Dia, Dia tak ada lagi di sini. Sebab Dia telah bangkit! Yesus Kristus, Tuhan, semuanya telah berakhir. Mata hati kita dibutakan…Semua penderitaan kita tenggelam bersama mentari dan Allah menerbitkan harapan baru bagi saya, bagi kamu, bagi kita semua. Di sana Ia menerbitkan mentari pagi di ufuk timur yang menjadi pertanda bahwa harapan orang-orang percaya tidak pernah akan mengecewakan.

Sebagai pamungkas dari tablo, didendangkan sebuah lagu berjudul Kasih Bapa. Lagu ini terakhir di rilis ulang oleh Judika di youtube.com. Simaklah video di bawah ini sebagai ilustrasi….

Bagaimanakah jalannya ibadat kebangkitan Yesus, atau Paskah? Simak saja di artikel lain; masih dengan saya sebagai penulisnya.

 

*) Penulis adalah seorang Novelis, tinggal di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

48 − 45 =