Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com

 

MORAL-POLITIK.COM – Pagi ini, Rabu (11/4/2018), atmosfer sangat terik, sekitar 32 derajat Selcius di Provinsi Jawa Timur, terutama Kabupaten Bangkalan di Pulau Madura.

Akan tetapi tak menyurutkan semangat dari tim Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) untuk mengunjungi hasil produksi dari pabrik PT. Asbuton Jaya Abadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur yang telah digunakan untuk pembangunan infrastruktur jalan.

Kunjungan lapangan ini diawali Pukul 07.00 WIB. Tiga orang pejabat Kabupaten TTS yang berkunjung yaitu Kepala Dinas PUPR Kabupaten TTS, S.A. Nggebu, Kabid Bina Marga Martelens Ch. Liu, dan Kepala Laborotarium Junior. E. Baker.

Sedangkan dari pihak PT. Asbuton Jaya Abadi diwakili oleh Direktur Marketing PT. Asbuton Jaya Abadi, Alvi Fairuz, didampingi juga Borth of Director kelahiran Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, Tance Nawa.

Maksud dilakukan kunjungan lapangan sesuai penjelasan Alvi adalah untuk memperoleh informasi tentang keunggulan Asbuton hasil karya pihaknya untuk dikaji dan dimanfaatkan dalam pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten TTS.

Perjalanan dari Hotel Tunjungan Plaza ke Bangkalan memakan waktu sekitar 3 jam. Ini dimaklumi karena padatnya arus kendaraan berbagai roda yang melintasi ruas-ruas jalan yang dilalui.

Suasana tampak lengang manakala memasuki kawasan Jembatan Suramadu, sebagai jembatan pertama terpanjang di Indonesia.

Obrolan-obrolan segar untuk menepis kantuk lantaran semalam menyaksikan pertandingan Liga Champions 2018 antara AS Roma Vs Barcalona cukup membantu.

Paling seru ketika diungkit kembali alkisah awal peresmian jembatan kebanggaan Indonesia ini, yaitu hilangnya sejumlah besi di jembatan, yang diduga digunakan sebagai besi tua; di jual kiloan dengan harga murah oleh oknum-oknum kurang bertanggung jawab.

“Bagaimana mungkin besi baru dibeli dengan harga mahal dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden ke-6 SBY, tapi secepat kilat dirubah riwayatnya menjadi besi tua?” kataku sedikit dramatisir untuk hilangkan kantuk teman-teman dari mantan Kabupaten Cendana, dan Apel tersebut.

Mereka pun terkekeh geli sembari melihat-lihat ke laut, entah dengan maksud apa…

Cerita ini semakin seru setelah muncul pengakuan dari Bos Alvi bahwa dirinya asli orang Bangkalan.

“Wah, harus di kawal ketat ni kalau ke TTS nanti?” kataku untuk menambah seru obrolan.

Bos Tance Nawa yang juga Bakal Calon Anggota DPRD DKI Jakarta ini terkekeh sembari memegang-megang perutnya.

Malah dirinya sebagai pengusaha muda melemparkan gagasannya untuk mengumpul besi-besi tua di NTT agar di pasarkan di Jawa Timur dan DKI Jakarta.

“Lumayan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di perdesaan,” yakin dia.

Ruas Jalan dari Asbuton

Setiba di Desa Mlajah, Kecamatan Mlajah yang merupakan tempat pemakaman Syaikhona Kholil Bangkalan, Alvi mengajak Tim TTS turun dari mobil lalu memberikan penjelasan secara global.

Pada sambungan jalan menggunakan Asbuton dan aspal produk lain, dia menuturkan bahwa proyek percontohan dengan menggunakan Asbuton ini sepanjang 1,3 kilometer, dikerjakan pada tahun anggaran 2016.

Dirinya mempersilahkan tim untuk lansung membandingkan ruas jalan dengan menggunakan produknya dan produk lain.

“Padat dan tak terkelupas, ‘kan?” katanya bernada promotif kepada Tim TTS.

Tim TTS mencermati lalu mereka berbisik-bisik, entah apa saja yang didiskusikan.

Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com

Siang semakin terik, nyaris 33 derajat Selcius, akan tetapi tak kuasa mencairkan kedua produk aspal tersebut.

Ingin rasanya berlama-lama di Madura. Namun agenda lain yang tak kalah menantang sedang menanti di ambang pikir. Kami pun kembali ke Surabaya, Kota Pahlawan, kota seribu kenangan bagi yang pernah menetap sehari, beberapa hari, atau beberapa tahun lamanya.

 

Penulis: V.J. Boekan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 67 = 68