Walikota Kupang Jefri Riwu Kore didaulat menari Foti asal Kabupaten Rote Ndao di Pawai Kebudayaan memeriahkan HUT Kota Kupang Ke-22, Senin (23/4/2018) petang. (Foto: V.J. Boekan/Moral-politik.com)

 

MORAL-POITIK.COM – Jika jujur menilai dominasi kelompok masyakat di Pawai Kebudayaan meriahkan HUT Kota Kupang ke-22, etnis Rote Ndao (Ronda) patut diberi Award.

Betapa tidak, sekitar 30 persen aparatur sipil negara (ASN) yang mengikuti Pawai Kebudayaan, Senin (23/4/2018) siang hingga petang hari, mengenakan pakaian adat Ronda.

Tidak seberapa sulit memberikan penilaian soal yang satu ini. Sebab ciri khas masyarakat Ronda adalah mengenakan selimut berwarna dasar hitam dan bunga-bunga atau kembang berwarna putih dan coklat, dan pakai Topi Ti’i Langga yang ada antena, sehingga dicandai sebagai parabola yang sedang melakukan siaran langsung terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Dari aspek sosiologis bisa dibenarkan, karena masyarakat Ronda suka bepergian atau jalan-jalan dengan mengenakan pakaian yang rapih dan indah.

Bagi laki-laki Ronda, mereka bepergian selalu mengenakan Topi Ti’i Langga sehingga menutup kepala dari terik mentari, melindungi kepala atau wajah dari hujan rintik yang bisa berakibat terserang sakit flue, dan menunjukan dirinya yang macho.

Bagi wanita-wanita Ronda, mereka sering bepergian mengenakan selimut yang mengikat pinggang hingga turun ke ujung jemari, pakai ikat pinggang atau pending, kalung susun, gelang, subang, dan hiasan kepala yang khas bak mahkota.

Sedangkan laki-laki Ronda memakai selimut dari bahan tenun, hem warna putih, ikat pinggang, dan Topi Ti’i Langga.

Menariknya pakaian dan hiasan masyarakat Ronda juga mendorong masyarakat bukan Ronda tertarik untuk mengenakannya, karena mudah diperoleh dan terkesan lebih cantik serta percaya diri atau PD.

Kata Mereka

Seorang wanita berusia sekitar 25 tahun yang tak ingin namanya di publikasikan dengan PD mengatakan dirinya bukan orang NTT, tapi lebih memilih mengenakan pakaian dan hiasan dari Ronda.

Sedangkan seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahun jujur mengatakan dirinya berasal dari Ronda.

“Saya tak mau pakai pakaian adat lain. Ini jati diri saya sebagai orang Ronda,” katanya semakin PD.

Berikut potret-potret sebagai pembuktian lain dari artikel ini.

 

 

Penulis : V.J. Boekan

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − = 6